Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Puluhan Ribu Orang "Ticket War" IKN, Hanya 300 Lolos Per Hari

Kompas.com, 17 September 2024, 19:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) secara resmi dibuka untuk masyarakat umum mulai Senin (16/9/2024). 

Masyakarat wajib melakukan registrasi dan reservasi tiket masuk dengan mengunduh aplikasi iKnow terlebih dahulu melalui gawai pintar masing-masing.

Kunjungan dibatasi hanya untuk 300 orang per hari. Hal ini demi menjaga keamanan, ketertiban, kenyamanan, serta kebersihan selama masa kunjungan.

Tak mengherankan jika kemudian terjadi fenomena ticket war, saat puluhan ribu pengguna aplikasi iKnow harus memperebutkan 300 tiket yang disediakan per hari.

Baca juga: Ingin ke IKN tapi Dana Cekak? Pilih Cara Super Hemat Ini Saja

Hingga artikel ini tayang, trafik iKnow sangat padat sehingga memengaruhi akses pengguna yang ingin melakukan reservasi tiket.

Menurut Deputi Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN (OIKN) Mohammed Ali Berawi, Selasa (17/9/2024), aplikasi iKnow telah diunduh oleh 10.000 pengguna melalui PlayStore.

Sementara, kenaikan jumlah pengguna yang mengunduh aplikasi yang dikembangkan sejak Oktober 2023 ini melalui AppStore sekitar 5.000 per hari.

Belum lagi selama proses registrasi yang tak berlangsung mulus. Pengguna kerap kali dihadapkan pada masalah ketidakcocokan atau unmatched antara identitas pengguna (username), dan kata kunci (password).

Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Mohammed Ali BerawiKOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Mohammed Ali Berawi
Ale menjelaskan, ketidakcocokan identitas dan kata kunci bisa karena beberapa faktor. Pertama, pengguna lupa identitas, lupa kata kunci, atau lupa keduanya.

Kedua, bisa jadi ketika cocok, server mengalami beban berlebih, sehingga proses pencocokan dengan komputasi cukup berat, akan gagal.

Dengan adanya skala demikian tinggi, kesalahan (glitch) seperti ini sangat mungkin terjadi. Terlebih pada aplikasi baru yang sangat masif macam iKnow ini.

"Karena banyaknya masalah ketidakcocokan identitas dan kata kunci, kami menerapkan kebijakan mempercepat proses pengguna dengan melewatkan (skip) proses registrasi untuk bisa langsung menuju menu kunjungan Nusantara," terang Ale, sapaan akrabnya kepada Kompas.com, Selasa (17/9/2024).

Baca juga: Masuk IKN Gratis, Masyarakat Bisa Lihat Istana Garuda hingga Plaza Seremoni

Kebijakan mempercepat proses reservasi tiket ini tentu saja dengan tetap memperhatikan aspek pengamanan fraud dengan memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Kemudian untuk skalabilita dan stabilitas sistem, saat ini Kedeputian THD terus melakukan perbaikan-perbaikan dan optimalisasi sistem.

"Untuk itu, kami saat ini sedang melakukan optimalisasi sistem," tuntas Ale.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau