Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penjelasan Basuki Soal Rusun KPBU ASN di IKN yang Tak Kunjung Dibangun

Kompas.com - 21/06/2024, 07:00 WIB
Aisyah Sekar Ayu Maharani,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Plt Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono buka suara soal alasan rumah susun (rusun) aparatur sipil negara (ASN) skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) di IKN yang tak kunjung dibangun.

Basuki menyebutkan alasan pertama adalah karena pembangunan infrastruktur dengan skema KPBU terbilang mahal.

Pasalnya, pemerintah harus membayarkan cost of money KPBU hingga 2-3 kali lipat dari nilai awal proyek.

"Misalnya, penggantian jembatan callender hamilton, 37 jembatan yang selesai kemarin itu investasinya sekitar Rp 600 miliar, tetapi kita kembalikan 15 tahun bisa sampai Rp 1,5 triliun," jelas Basuki saat memberikan contoh cost of money pemerintah kepada badan usaha jika menggunakan skema KPBU, Kamis (20/6/2024).

Oleh karena itu, skema KPBU untuk proyek rusun ASN IKN ini juga masih terus dievaluasi oleh pemerintah.

Sebagai solusi, terbuka kemungkinan proyek rusun tersebut dibiayai lewat loan atau bahkan diambil alih seluruhnya oleh pengembang.

Baca juga: UPDATE Proyek Jalan Bebas Hambatan IKN Seksi 6A-6B, Konstruksi Berlanjut

"Mendingan loan karena masih kecil bunganya, satu persen katanya," lanjut Basuki.

Sementara berdasarkan catatan Kompas.com, total rusun ASN IKN yang direncanakan dibangun dengan skema KPBU mencapai 166 tower rusun dan 159 rumah tapak. Badan usaha yang terlibat berasal dari dalam dan luar negeri.

Badan usaha dari dalam negeri, antara lain PT Summarecon Agung Tbk dengan 6 tower, PT Perintis Triniti Properti Tbk 8 tower, PT Nindya Karya 8 tower, PT Intiland Development Tbk 109 tower, PT Ciputra Development Tbk 10 tower dan 20 rumah tapak, serta Rockfields yang masih dikonfirmasi.

Kemudian badan usaha luar negeri, meliputi Citic Construction dari China yang tergabung dalam Konsorsium Nusantara bersama dengan PT Risjadson Brunsfield Nusantara dengan 60 tower rusun untuk pegawai Kementerian Pertahanan dan Keamanan (Hankam), Maxim dari Malaysia 10 tower, dan IJM dari Malaysia 20 tower.

Adapun total nilai investasi dari proyek jumbo tersebut masih fluktuatif, namun diperkirakan belanja modalnya akan mencapai lebih kurang Rp 50 triliun.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com