Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bernardus Djonoputro
Ketua Majelis Kode Etik, Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP)

Bernardus adalah praktisi pembiayaan infrastruktur dan perencanaan kota. Lulusan ITB jurusan Perencanaan Kota dan Wilayah, dan saat ini menjabat Advisor Senior disalah satu firma konsultan terbesar di dunia. Juga duduk sebagai anggota Advisory Board di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung ( SAPPK ITB).

Selain itu juga aktif sebagai Vice President EAROPH (Eastern Region Organization for Planning and Human Settlement) lembaga afiliasi PBB bidang perencanaan dan pemukiman, dan Fellow di Salzburg Global, lembaga think-tank globalisasi berbasis di Salzburg Austria. Bernardus adalah Penasehat Bidang Perdagangan di Kedubes New Zealand Trade & Enterprise.

Memahami Jakarta, Kota Global Pasca IKN

Kompas.com, 29 September 2024, 15:16 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

GLOBALISASI terjadi semakin cepat. Ekonomi global berkelindan erat dengan politik lokal, mengubah struktur masyarakat maupun politik kota.

Kota-kota pun makin berorientasi global. Termasuk Jakarta yang harus menjadi kota dunia. Hal ini sudah ditetapkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Jakarta yang disepakati Pemerintah Kota dan DPRD.

Sebagai kota primat ekonomi Indonesia akan tetap bertumbuh sebagai akumulator dan redistributor ekonomi, Jakarta kini harus berhadapan dengan kota lain di dunia berkompetisi berebut kue ekonomi.

Beberapa lembaga survei termasuk Golkar Institute, LSI dan Indikator dalam dua bulan terakhir memperlihatkan, tantangan Jakarta hari ini yang dominan adalah tingginya harga kebutuhan pokok, terbatasnya lapangan kerja, korupsi dan kualitas layanan birokrasi, kemacetan, dan banjir.

Baca juga: Enam Proyek Mixed Use yang Dibangun di IKN Tembus Rp 38,8 Triliun

Kendati demikian, kota perlu meningkatan daya saing di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkenalkan budaya setempat di kancah global.

Tantangan geografis Jakarta cukup besar, membuat pemerintahnya harus mampu menangkap aspirasi beragam warganya.

Wilayah Provinsi DK Jakarta memiliki luas 7.639,83 kilometer persegi, yang mencakup
luas daratan sebesar 662,33 kilometer persegi, dan luas lautan sebesar 6.977,5 kilometer persegi

Rentang kendali administratifnya pun kompleks, terbagi ke dalam lima kota administratif, satu kabupaten administratif yang terdiri dari 44 kecamatan, 267 kelurahan, 2.741 Rukun Warga (RW) dan 30.470 Rukun Tetangga (RT).

Diperkirakan tiga juta warga bergerak setiap hari masuk keluar batas administrasi Jakarta. Ini membuat isu aglomerasi perkotaan terbesar ke-4 di dunia yang menyangkut 31 juta penduduk menjadi bagian tak terpisahkan dari permasalahan Jakarta.

Karena itu, kompleksitas perencanaan pembangunan di Jakarta menuntut pentingnya peran pemimpin, dalam hal ini gubernur Jakarta yang visioner.

Berkembang "by design"

Jakarta perlu pemimpin cakap dengan manifestasi politik yang kuat dalam mensikapi konflik tata ruang, spekulasi tanah berlebihan, terpinggirkannya kegiatan-kegiatan produktif masyarakat kecil, serta ketahanan terhadap degradasi lingkungan.

Rencana pindahnya fungsi pemerintahan pusat ke Iibu Kota Nusantara (IKN) pun jadi perhatian dunia, sehingga solusi teknokratik pembangunan Jakarta baru harus diaplikasikan dengan ukuran-ukuran kenyamanan hidup kota (livability) dan solusi teknologi masa depan.

Baca juga: Mimpi Besar Indonesia Punya Tol Bawah Laut Bakal Terwujud di IKN

Salah satu kunci utama adalah memahami peran regional Jakarta dalam proses pembentukan mega cities, pencapaian target penyediaan perumahan, dan fasih dalam politik regionalism dan pengelolaan aglomerasi yang tepat.

Tantangan ke depan adalah bagaimana proses perencanaan Jakarta dibarengi kebijakan urusan aglomerasi perkotaan Jabodetabekpunjur yang sarat isu koordinatif yang sangat pelik.

Sebuah kota dunia harus layak huni. Jakarta perlu pemimpin yang fasih dan mampu memahami bagaimana mengelola kualitas tempat hidup kita.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau