Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Meski Tak Lagi Muda, Basuki Ungkap Alasan Mau Pimpin OIKN

Kompas.com, 2 Februari 2025, 11:45 WIB
Muhdany Yusuf Laksono,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

NUSANTARA, KOMPAS.com - Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono mengungkapkan alasannya berkenaan jabatan yang diemban saat ini meski usia sudah tidak muda lagi.

Seperti diketahui, pria berusia 70 tahun itu telah pamit dari tugasnya di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada 18 Oktober 2024 setelah meniti karir selama 45 tahun.

Kendati demikian, Presiden Prabowo Subianto menunjuk Basuki sebagai Kepala OIKN dan melantiknya pada 5 November 2024.

"Kenapa saya mau di sini? Saya ini birokrat, jadi perintah itu pasti saya emban betul. Jadi saya ini benar-benar sebagai birokrat, Korpri, purely birokrat, saya bekerja atas perintah," ujar Basuki dalam Podcast GASPOL People di kanal Youtube Kompas.com, Sabtu (1/2/2025).

Baca juga: Basuki Resmi Jadi Kepala OIKN, Nusron Wahid: Pak Bas Orang Baik

Ia pun merasa baik-baik saja dengan tugas besar yang diterima saat ini meski pria seusianya pada umumnya sudah beristirahat dan menghabiskan waktu dengan keluarga dan cucu di rumah.

"Bukan kerja, karena ini tugas tadi. Makanya kalau nanti legislatif dan yudikatif (di IKN) selesai, nah saya baru mikir. Ini kan masih nanggung, eksekutif pun belum selesai semua, saat saya ditugasi makanya saya terima," terangnya.

Ketika disinggung adanya beberapa isu lama yang mengaitkannya dengan posisi atau jabatan lain, Basuki menyebut dirinya tidak pernah memilih jabatan.

"Saya tidak pernah milih jabatan, ini juga pelajaran buat anak muda. Jabatan itu jangan dipilih, karena saya muslim, ada ayatnya itu, Allah SWT bilang 'kalau kau minta, aku kasih, aku gak tanggung jawab, tapi kalau kau gak minta, dan saya lihat kamu bisa, saya kasih, saya tanggung jawab, bahwa ini amanah', kalau yang ngasih tanggung jawab, InsyaAllah kita bisa melakukan dengan baik dan amanah," tuturnya.

"Karena kalau jabatan dikejar, saya pasti punya ekspektasi, kalau nanti tidak tercapai, selisihnya inilah frustasi," imbuhnya.

Jawaban senada juga kembali dilontarkan Basuki ketika menanggapi pertanyaan bahwa tawaran untuk ikut dalam kontestasi Pilpres dan Pilkada Jakarta kala itu merupakan pemberian, alias bukan dirinya yang mengejar.

"Seperti saya bilang, saya ini purely birokrat, DNA saya tidak ada di dunia politik seperti itu. Kedua, memang keluarga saya bukan dari keluarga politis, jadi mereka tidak ridho kalau saya masuk di dunia politik," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau