Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Bentang Sayap Garuda Raksasa di IKN 177 Meter, Diselubungi 4.650 Bilah

Karya monumental sekaligus fenomenal maestro patung Nyoman Nuarta ini menjadi pusat atensi di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN).

Bilah-bilang yang menyelubungi Istana Presiden tersebut sebagian besar telah terpasang, membentuk kepak sayap Burung Garuda yang siap menyongsong Visi Indonesia Emas 2045.

Namun, tahukah Anda, berapa meter kepak sayap Burung Garuda di IKN ini?

Burung Garuda Raksasa dirancang dengan bentangan sayap sepanjang 177 meter dan menjulang setinggi 77 meter.

Sementara bilah-bilah yang menyelubunginya terbuat dari baja anti korosi produksi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, meliputi 465 modul, dengan 10 bilah setiap modulnya.

Dengan demikian jumlah total ada 4.650 bilah. Dan jika tidak ada kendala, seluruh bilah tersebut dapat diselesaikan pada bulan Maret 2024.

Kepada Kompas.com, Nyoman Nuarta mengatakan, hasil pekerjaan struktur dan pemasangan bilah Istana Presiden ini sesuai dengan desain.

"Karena saya sendiri yang merancang, dan mengerjakannya. Tentu sesuai dengan desainnya," ujar Nyoman, Sabtu (24/2/2024).

Nyoman mengungkapkan, bilah-bilah selubung Burung Garuda itu dikerjakan di bengkel kerja (workshop) miliknya, NuArt, di Bandung.

Kemudian dirakit di Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan selanjutnya dipasang di lokasi proyek.

Istana Rakyat

Nyoman menggambarkan bahwa Istana Presiden ini adalah Istana Rakyat. Untuk itu, dia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama bergotong royong membangunnya.

Desain Istana Presiden ini mendapat persetujuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 3 Januari 2022.

Hal ini menyusul presentasi final Nyoman Nuarta di Istana Merdeka, disaksikan Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Diana Kusumastuti.

"Sebuah proyeksi bagi masa depan bangsa," cetusnya.

Dia menegaskan, istana ini merupakan hasil karya cipta orisinal yang tidak dipengaruhi kaidah-kaidah arsitektur kolonial.

Menurutnya, Indonesia begitu kaya budaya, menawarkan keragaman yang tak ternilai. Baginya, beragam bukan berarti tidak dapat menjadi satu.

"Saya tertarik pada sebuah simbol yang telah disadari dan dipahami oleh masyarakat Indonesia sebagai simbol pemersatu bangsa. Simbol yang kemudian dimunculkan dalam rancang bangun sebuah tempat paling prestisius dalam tatanan negara Indonesia," tutur Nyoman Nuarta.

Simbol itu adalah Burung Garuda yang mengembangkan sayapnya di atas tanah Nusantara.

https://ikn.kompas.com/read/2024/02/27/094850787/bentang-sayap-garuda-raksasa-di-ikn-177-meter-diselubungi-4650-bilah

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com