ICCC ini merupakan perluasan dan penyempurnaan dari Command Center (CC) Tahap I yang bersifat sementara, dengan kemampuan terbatas.
Hal ini karena CC Tahap I berfungsi hanya untuk memantau progres dan situasi pembangunan IKN di area Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) 1A.
Sementara, ICCC yang merupakan hibah senilai 7,6 juta dollar AS dari US Trade and Development Agency (USTDA), melibatkan tujuh perusahaan teknologi terkemuka dunia.
ICCC berfokus pada area kota IKN yang lebih luas dan sudah beroperasi secara efektif di area KIPP 1A, 1B dan 1C.
Tujuh perusahaan teknologi ini adalah Amazon Web Service, Autodesk, Cisco, Environmental Systems Research Institute (ESRI), IBM, Honeywell, serta Motorola.
Mereka dikoordinasikan oleh Meta Mind Global Corporation (MMGC) sebagai kontraktor utama pembangunan ICCC IKN.
Direktur Data dan Kecerdasan Buatan pada Kedeputian Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN (OIKN) Adhiguna Mahendra menjelaskan, dengan cakupan area yang lebih luas dan aspek monitoring project yang kian beragam, maka diperlukan juga teknologi command center yang dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut.
"Jadi, ICCC mengintegrasikan teknologi komunikasi, keamanan, dan komputasi awan (cloud computing) yang lebih baik dibanding tahap I," ucap Adhi secara eksklusif kepada Kompas.com, Selasa (26/11/2024).
Selain itu, ICCC juga menawarkan otomasi gedung dan sistem keamanan yang lebih baik, seperti akses kontrol, sistem alarm, dan integrasi dengan sistem manajemen bangunan.
Analitik berbasis data spasial dan digital twin menjadi salah satu fitur utama, dan memberikan visualisasi kota dalam format 2D dan 3D yang terhubung dengan data aktual (real-time).
Hal ini memungkinkan pengelolaan infrastruktur dan aset kota secara lebih efisien, termasuk dalam manajemen proyek dan pemantauan lingkungan.
Menurut Adhi, dengan sistem dispatch yang lebih baik, ICCC dapat mengintegrasikan berbagai alat komunikasi dan memastikan koordinasi cepat dalam situasi darurat.
Dengan demikian, kolaborasi antara staf di lapangan (on site) dan remote memungkinkan pengelolaan yang terpusat namun tetap fleksibel.
"Dengan fitur-fitur seperti analitik yang lebih komprehensif, digital twin, otomasi gedung, dan pengelolaan aset berbasis teknologi, ICCC ini diharapkan mampu mengelola IKN lebih komprehensif dan scalable dibandingkan dengan CC Tahap I," terang Adhi.
Amazon Web Services, misalnya, menyediakan layanan cloud dan keamanan IT, Autodesk menangani manajemen konstruksi dan desain, Cisco mendukung infrastruktur IT dan jaringan, serta ESRI berperan dalam analisis geospasial.
Sementara IBM fokus pada manajemen aset dan lingkungan, Honeywell menangani sistem pengawasan dan keamanan, dan Motorola menyediakan teknologi komunikasi dan jaringan yang andal.
"Mereka mengembangkan solusi yang mencakup pembangunan arsitektur sistem yang memungkinkan integrasi teknologi berbasis internet atau Internet of Things (IoT) dan sistem operasional untuk pengelolaan kota," terang Tonny.
Infrastruktur komunikasi dikembangkan untuk mendukung layanan darurat, dispatch, dan interoperabilitas lintas jaringan seperti radio, Long Term Evolution (LTE), dan telepon, serta memastikan respons cepat terhadap keadaan darurat.
Pembangunan infrastruktur teknologi informasi mencakup jaringan kampus, pusat data, keamanan jaringan, serta perangkat kolaborasi untuk mendukung operasional kantor pintar dan konektivitas antara pusat pemerintahan.
Selain itu, solusi Geographic Information System (GIS) digunakan untuk analisis data transportasi dan tata ruang, termasuk integrasi dengan data IoT dan arsitektur kota untuk perencanaan strategis.
Sementara digital twin berbasis Building Information Modeling (BIM) diimplementasikan untuk pemantauan dan pengelolaan infrastruktur secara digital, memberikan wawasan detail tentang struktur bangunan dan fasilitas kota.
Platform manajemen gedung mendukung pemeliharaan preventif dan pengelolaan aset yang efisien, memungkinkan pemantauan kondisi bangunan secara menyeluruh.
Sedangkan layanan komputasi awan mendukung penyimpanan data, pengujian aplikasi GIS, serta pengelolaan keamanan dan akses identitas, memastikan data terlindungi dan hanya diakses oleh pihak yang berwenang.
Solusi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, konektivitas, dan keberlanjutan di IKN melalui integrasi teknologi yang komprehensif.
"Seluruh kendali operasional teknologi mutakhir di IKN ini berada di bawah otoritas OIKN, meskipun kontraktor utamanya MMGC," tuntas Tonny.
https://ikn.kompas.com/read/2024/11/26/170000787/mengupas-kecanggihan-pusat-komando-ikn-dukungan-7-tech-company-dunia