Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Iwan Bogananta, Dubes Pertama yang Berkunjung ke IKN dengan Sederet Pencapaian

Iwan menginjakkan kaki di IKN pada 8 Maret 2023. Apa alasan di balik kunjungan itu?

Peran dan kontribusinya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk  Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, sangat vital.

"Termasuk dalam membantu mempromosikan dan memfasilitasi para calon investor asing yang tertarik menanamkan modalnya di IKN khususnya, dan Indonesia umumnya. Selain itu juga mengajak mereka untuk merelokasi bisnis dan kantornya ke IKN," ujar Iwan kepada Kompas.com.

Dia mengaku telah banyak berkomunikasi dan berdiskusi dengan para investor besar di negara akreditasi dan mereka sangat siap untuk berperan serta dalam investasi ke Indonesia.

Tak hanya itu, Iwan juga tercatat mampu membawa calon investor Bulgaria ke IKN pada Kamis (8/6/2023) yang merupakan tindak lanjut dari kunjungan para calon investor Bulgaria setelah sebelumnya pada April 2022.

Salah satu investor Bulgaria yang tertarik menanamkan modalnya di IKN adalah Founder Bella Dimitrios Vitzilious.

Mereka berencana membenamkan investasi senilai 50 juta dollar AS atau ekuivalen Rp 744,2 miliar.

Ketertarikan untuk berinvestasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan dan Letter of Intents (LoI) antara Dimitrios Vitzilious dan Direktur Promosi Sektoral, Kedeputian Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Sri Endang Novitasari.

Lahir pada 16 November 1976, Iwan dilantik menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada 26 Oktober 2020.

Sebelum terjun ke dunia diplomasi, Iwan Bogananta dikenal sebagai seorang pengusaha yang berpengalaman.

Ia memiliki rekam jejak yang kuat di berbagai sektor bisnis, termasuk pertambangan batu bara, perhotelan, hiburan, dan restoran yang menunjukkan pemahamannya tentang industri kreatif dan kuliner.

Iwan juga tercatat sebagai anggota aktif Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yang menunjukkan keterlibatannya dalam dunia usaha dan perdagangan.

Pada tahun 2020, Iwan Bogananta memulai babak baru dalam kariernya dengan dilantik sebagai Duta Besar RI untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara.

Meski menghadapi tantangan adaptasi dengan iklim dan bahasa, ia fokus menjalankan tugasnya untuk memajukan ekonomi Indonesia di Eropa.

Dengan latar belakang pengusaha, Iwan langsung tancap gas. Ia berhasil mendorong ekspor kelapa parut kering (desiccated coconut) ke Eropa, membuka mata pasar terhadap produk Indonesia yang potensial.

Bahasa Indonesia yang menjadi mata kuliah wajib di Universitas Bulgaria dan menjadi jembatan budaya yang menarik minat warga Eropa untuk mengenal Indonesia lebih dalam, juga merupakan sejarah gemilangnya.

Namun, salah satu pencapaiannya yang paling inovatif adalah pendirian pabrik bumbu rendang di Bulgaria.

Bekerja sama dengan ahli kuliner William Wongso dan perusahaan makanan besar Balkan, ia memadukan bumbu asli Indonesia dengan daging berstandar halal Turkiye.

Konsep "one-stop service" ini diharapkan menjadi pionir bagi makanan siap saji Indonesia di Eropa.

"Ini merupakan suatu pionir untuk bisa makan makanan siap Indonesia, tidak hanya rendang, ke depan mungkin nanti ada ayam Taliwang atau berikutnya itu bisa berjalan," ungkap Iwan.

Iwan melihat potensi besar di negara-negara kecil Eropa. Ia mencontohkan, Bulgaria yang mengimpor minyak sawit dari Indonesia untuk diolah dan didistribusikan ke negara-negara tetangga.

Baginya, pemerintah Indonesia perlu memberi perhatian lebih pada negara-negara ini, yang bisa menjadi pintu gerbang produk Indonesia ke pasar Eropa yang lebih luas.

Salah satu fokus Iwan adalah membantu Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Indonesia menembus pasar Eropa. Ia melihat kendala utama adalah biaya pengiriman dan promosi.

Untuk itu, Iwan mengusulkan pembentukan warehouse (gudang) bersama yang dikelola KBRI dengan melibatkan pihak ketiga di negara setempat. Pemerintah diharapkan dapat memberikan subsidi pengiriman dan promosi.

"Saya yakin kalau setiap beberapa perwakilan kita belanja potensi pemerintah ikut dibantu dengan warehouse tersebut, Insya Allah pasti bisa lebih cepat," ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan pihak Indonesia dalam proses pengemasan dan pemasaran produk di negara tujuan, agar nilai tambah produk Indonesia lebih optimal.

Selama masa jabatannya, Iwan berhasil meningkatkan investasi dan perdagangan Indonesia dengan ketiga negara akreditasinya sebesar 50 persen. 

Tren investasi tersebut adalah tahun 2019 sebesar 154,6 juta dolar AS, tahun 2020 senilai 188,9 juta dolar AS, tahun 2021 sebanyak 129 juta dolar AS, tahun 2022 senilai 434,4 juta dolar AS, dan tahun 2024 senilai 755,8 juta.

Iwan optimistis, produk Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Eropa. Ia berharap KBRI dapat menjadi hub pengembangan produk Indonesia, mulai dari komoditas hingga kerajinan.

"Tinggal bagaimana kita serius untuk bisa melakukan ini, yaitu dengan menggandeng KBRI untuk bisa mendapatkan potensi-potensi dari setiap negara," pungkasnya.

https://ikn.kompas.com/read/2025/02/26/233639787/iwan-bogananta-dubes-pertama-yang-berkunjung-ke-ikn-dengan-sederet-pencapaian

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com