Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Eksplorasi Harta Karun Migas Dekat IKN Gunakan Skema HPL

Menteri Transmigrasi, M Iftitah Sulaiman Suryanegara, mengatakan, temuan itu menambah daftar sumur migas di Kutai Kartanegara yang sebelumnya telah dieksplorasi dengan jumlah sebanyak 79 sumur.

Untuk itu, Kementerian Transmigrasi bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menandatangani nota kesepahaman (MoU) pemanfaatan lahan Hak Pengelolaan (HPL) transmigrasi untuk penerbitan Hak Pakai eksplorasi sumur migas di sana.

"Kami sepakat tadi, bahwa opsi yang dipilih adalah pemanfaatan HPL transmigrasi. Dengan begini, tadi sudah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman bersama, bagaimana ini nanti juga bisa memberikan manfaat, dampak yang besar untuk masyarakat yang ada di sekitarnya, tidak hanya untuk industri-nya," kata Iftitah di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (04/05/2026).

Iftitah mengatakan, badan usaha yang akan melakukan eksplorasi sumur, dalam hal ini adalah PT Pertamina (Persero), akan membangun infrastruktur dasar di kawasan transmigrasi Samboja.

"Tadi kami juga sudah sepakat bahwa nanti akan ada pembangunan infrastruktur dasar di sana. Jadi kami tidak harus mengeluarkan dana untuk infrastruktur dasar, seperti jalan, jembatan, dan lain-lain karena akan ditopang oleh industri," lanjutnya.

Ia berharap, adanya potensi ekonomi baru itu bisa turut membantu warga transmigran untuk mendapatkan pekerjaan.

Iftitah juga menegaskan akan memberikan kompensasi yang sepadan bagi warga transmigran apabila lahannya terimbas eksplorasi sumur migas tersebut.

"Apakah itu berada di lahan masyarakat yang sudah dimanfaatkan atau misalkan lahan kosong sisa HPL yang masih berada dalam penguasaan kami," jelas Iftitah.

Proyeksi Produksi 1 Juta Barel Minyak

Pada kesempatan yang sama, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan bahwa ada potensi produksi minyak sebanyak 1 juta barel dan potensi produksi gas sebanyak 11,64 miliar kaki kubik dari 13 sumur baru itu.

"Nah, apakah ini termasuk sumur masyarakat? Ini tidak termasuk sumur masyarakat, ini sumur baru yang akan dibor oleh Pertamina PHSS (PT Pertamina Hulu Sanga Sanga)," kata Djoko.

Selain itu, SKK Migas juga masih mengidentifikasi apakah terdapat sumur tua untuk masyarakat yang nantinya bisa dimanfaatkan.

Ia menargetkan, eksplorasi 13 sumur migas baru itu akan mulai dilaksanakan pada bulan Juni 2026 mendatang.

"Jalan-jalannya pun kami cari untuk menuju lokasi yang juga nantinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengangkut hasil tanamnya, sawahnya, dan sebagainya," lanjut dia.

Potensi Revenue Rp 2,5 Triliun

Sementara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan mengeksplorasi sumur migas tersebut adalah PT Pertamina (Persero).

"Potensi cadangannya setara Rp 1,1 triliun untuk minyak dan sekitar Rp 1,5 triliun untuk gasnya. Jadi secara total akan menghasilkan revenue sekitar Rp 2,5 triliun," ujar Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia Sunaryanto.

Rencananya, pengeboran dilakukan mulai tahun 2026 hingga tahun 2032.

Namun berdasarkan diskusi dengan pemerintah, diharapkan penyelesaian pengeboran sumur bisa dilakukan dengan lebih cepat.

https://ikn.kompas.com/read/2026/05/06/134717887/eksplorasi-harta-karun-migas-dekat-ikn-gunakan-skema-hpl

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com