JAKARTA, KOMPAS.com - Warga transmigran di dekat Ibu Kota Nusantara (IKN), tepatnya wilayah Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, akan mendapatkan kompensasi apabila terdampak proyek pengeboran sumur minyak dan gas (migas).
"Apakah itu berada di lahan masyarakat yang sudah dimanfaatkan atau misalkan lahan kosong sisa HPL (Hak Pengelolaan) yang masih berada dalam penguasaan kami," kata Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara di Jakarta Selatan, Senin (04/04/2026).
Hal ini menyusul ditemukannya 13 sumur migas baru di Samboja, setelah sebelumnya 79 sumur migas di sana telah dieksplorasi sejak tahun 1989.
Untuk itu, Kementerian Transmigrasi bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menandatangani nota kesepahaman (MoU) pemanfaatan lahan HPL transmigrasi untuk penerbitan Hak Pakai eksplorasi sumur migas di sana.
Baca juga: 13 Sumur Migas di Dekat IKN Berpotensi Hasilkan Rp 2,5 Triliun
Ia juga menyambut baik potensi pengembangan wilayah transmigrasi lewat eksplorasi sumber daya alam (SDA) tersebut.
"Tadi kami juga sudah sepakat bahwa nanti akan ada pembangunan infrastruktur di dasar. Jadi kami tidak harus mengeluarkan dana untuk infrastruktur dasar. Seperti jalan, jembatan, dan lain-lain karena akan ditopang oleh industri," ucap Iftitah.
Tak hanya itu, Iftitah juga berharap eksplorasi migas di Samboja bisa membuka lapangan pekerjaan untuk para transmigran Samboja.
Pada kesempatan yang sama, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto berharap kompensasi yang diberikan kepada transmigran bisa saling menguntungkan.
"Sesuai regulasi yang ada, di dalam perizinannya nanti ada minimum kriteria yang harus dicantumkan, tapi prinsipnya adalah win-win," kata Djoko.
Apalagi, lanjut Djoko, jangan sampai nilai kompensasi membuat proyek pengeboran migas tersebut menjadi tidak ekonomis.
Baca juga: 13 Sumur Migas Baru Ditemukan di Kawasan Transmigrasi Dekat IKN
"Yang penting kan tadi saling menguntungkan, berapa pun dibahas, tapi masih ekonomis untuk kita kembangkan," tegasnya.
Djoko Siswanto mengatakan bahwa ada potensi produksi minyak sebanyak 1 juta barel dan potensi produksi gas sebanyak 11,64 miliar kaki kubik dari 13 sumur migas itu.
"Nah, apakah ini termasuk sumur masyarakat? Ini tidak termasuk sumur masyarakat, ini sumur baru yang akan dibor oleh Pertamina PHSS (PT Pertamina Hulu Sanga Sanga)," kata Djoko.
Selain itu, SKK Migas juga masih mengidentifikasi apakah terdapat sumur tua untuk masyarakat yang nantinya bisa dimanfaatkan.
Ia juga menargetkan, eksplorasi 13 sumur migas baru itu akan mulai dilaksanakan pada bulan Juni 2026 mendatang.
Baca juga: Harta Karun 79 Sumur Minyak di Lahan Transmigrasi Kutai Kertanegara Siap Dieksplorasi