Penulis
Aturan semacam ini, meski terdengar sederhana, menyentuh persoalan yang kerap luput dari perhatian dalam proyek infrastruktur berskala besar: kerentanan pekerja perempuan di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki.
Baca juga: Troy Harold Yohanes Pantouw, Juru Bicara Otorita IKN Meninggal Dunia
Data komposisi penghuni HPK menunjukkan perempuan hanya mengisi kurang dari seperlima populasi hunian, sebuah kondisi umum di sektor konstruksi yang secara historis memang timpang dari sisi keterwakilan gender.
Sri mengaku belum pernah mengalami gangguan keamanan selama tinggal di HPK. Ia menilai kehadiran petugas keamanan dan sistem kamera pengawas cukup membantu menciptakan rasa tenang.
"Selama tinggal di sini saya tidak pernah mengalami gangguan. Keberadaan petugas keamanan dan CCTV cukup membantu menjaga lingkungan tetap aman. Kalau ada kejadian biasanya bisa ditelusuri melalui rekaman CCTV," ujarnya.
Di luar aspek keamanan, kawasan HPK juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti kantin, masjid, dan taman yang dapat diakses seluruh penghuni.
Pengelolaan kawasan dijalankan melalui sistem building management, mencakup perawatan fasilitas hingga layanan harian bagi penghuni.
Baca juga: Troy Harold Yohanes Pantouw, Juru Bicara Otorita IKN Meninggal Dunia
Bagi Sri, kebutuhan paling mendasar dari sebuah hunian sementara bukanlah kemewahan, melainkan rasa aman yang memungkinkan pekerja beristirahat dengan tenang sebelum kembali menjalankan aktivitas keesokan hari.
"Semua orang tentu membutuhkan rasa aman," tuturnya singkat.
Otorita IKN menyatakan pendekatan responsif gender dalam pengelolaan HPK merupakan bagian dari upaya menghadirkan bukan hanya infrastruktur modern, tetapi juga lingkungan kerja dan hunian yang aman serta inklusif bagi seluruh pekerja sejak tahap pembangunan berlangsung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang