Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dikurasi BI, Wastra Balikpapan dan PPU Tembus Taiwan dan Thailand

Kompas.com, 23 Agustus 2026, 18:12 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com — Di sudut-sudut kota Penajam Paser Utara (PPU), dan Balikpapan, yang berhadapan langsung dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), canting, alat cap, dan mesin jahit masih bekerja seperti biasa.

Namun sesuatu telah berubah pada wastra hasil kreativitas jemari para perajin di wilayah penyangga IKN tersebut.

Motif yang dulu hanya dikenal warga lokal, kini menyeberang ke ajang dengan jangkauan lebih luas yakni pameran Nasional Karya Kreatif Indonesia (KKI), bahkan hingga ke Taiwan dan Thailand.

Perubahan ini tidak datang begitu saja. Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Balikpapan menyaring sekitar 60 UMKM wastra di dua wilayah penyangga IKN tersebut.

Baca juga: Merajut Nusantara Lewat Wastra, Upaya BI Mengawinkan 2 Pakem Berbeda

Lalu terpilih tiga nama untuk dibawa ke panggung Nasional, Sekar Buen, Batik Poyung, dan Zahro.

Kepala Kantor Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menyebut proses kurasi ini berlapis dan ketat.

"UMKM yang lolos harus memiliki motif khas dengan cerita filosofis yang jelas, memakai bahan ramah lingkungan, sekaligus tetap laku di pasar yang seleranya terus bergerak," urai Robi kepada Kompas.com, saat gelaran KKI 2026 di Jakarta, Minggu (23/8/2026).

Motif dari Hutan dan Laut 

Kekuatan wastra Balikpapan dan PPU ada pada sumbernya, yakni alam Kalimantan.

Iin Endah Prianti, penggerak wastra lokal, sekaligus Founder dan Creative Director jenama Batik Zahro, menuturkan bagaimana motif-motif itu lahir dari pengamatan pada lingkungan sekitar.

Sejak 2017, Iin mengangkat sosok Royal Kelubut, tanaman khas Balikpapan, dipadukan dengan biota laut yang menjadi ciri pesisir Kalimantan Timur.

"Kami mengangkat flora fauna, seperti biota lautnya, terus anggrek hitamnya. Kalau di Balikpapan itu yang kita angkat ya karang manting, kemudian kelubut-kelubut ini kan memang pasti dicari terus," kata Iin.

Baca juga: Diaspora Dunia Bikin IKN Meriah, Ada Bazaar hingga Wastra Nusantara

Dari motif Royal Kelubut itu, Iin mengembangkan produk turunan berupa tas dan aksesori.

Bunga dan daun tanaman itu ia jadikan bentuk aksesori tersendiri, sehingga satu tanaman bisa lahir dalam beberapa wujud produk sekaligus.

Proses produksinya melibatkan banyak tangan dari latar berbeda. Anak-anak SMK belajar teknik pewarnaan bersama perajin senior, sementara penyandang disabilitas turut ambil bagian dalam tahap-tahap produksi.

Kolaborasi lintas generasi dan lintas kemampuan ini memperkaya corak, sekaligus membuat industri wastra Balikpapan terasa lebih terbuka bagi siapa saja yang ingin terlibat.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau