Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com — Di sudut-sudut kota Penajam Paser Utara (PPU), dan Balikpapan, yang berhadapan langsung dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), canting, alat cap, dan mesin jahit masih bekerja seperti biasa.
Namun sesuatu telah berubah pada wastra hasil kreativitas jemari para perajin di wilayah penyangga IKN tersebut.
Motif yang dulu hanya dikenal warga lokal, kini menyeberang ke ajang dengan jangkauan lebih luas yakni pameran Nasional Karya Kreatif Indonesia (KKI), bahkan hingga ke Taiwan dan Thailand.
Perubahan ini tidak datang begitu saja. Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Balikpapan menyaring sekitar 60 UMKM wastra di dua wilayah penyangga IKN tersebut.
Baca juga: Merajut Nusantara Lewat Wastra, Upaya BI Mengawinkan 2 Pakem Berbeda
Lalu terpilih tiga nama untuk dibawa ke panggung Nasional, Sekar Buen, Batik Poyung, dan Zahro.
Kepala Kantor Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menyebut proses kurasi ini berlapis dan ketat.
"UMKM yang lolos harus memiliki motif khas dengan cerita filosofis yang jelas, memakai bahan ramah lingkungan, sekaligus tetap laku di pasar yang seleranya terus bergerak," urai Robi kepada Kompas.com, saat gelaran KKI 2026 di Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Kekuatan wastra Balikpapan dan PPU ada pada sumbernya, yakni alam Kalimantan.
Iin Endah Prianti, penggerak wastra lokal, sekaligus Founder dan Creative Director jenama Batik Zahro, menuturkan bagaimana motif-motif itu lahir dari pengamatan pada lingkungan sekitar.
Sejak 2017, Iin mengangkat sosok Royal Kelubut, tanaman khas Balikpapan, dipadukan dengan biota laut yang menjadi ciri pesisir Kalimantan Timur.
"Kami mengangkat flora fauna, seperti biota lautnya, terus anggrek hitamnya. Kalau di Balikpapan itu yang kita angkat ya karang manting, kemudian kelubut-kelubut ini kan memang pasti dicari terus," kata Iin.
Baca juga: Diaspora Dunia Bikin IKN Meriah, Ada Bazaar hingga Wastra Nusantara
Dari motif Royal Kelubut itu, Iin mengembangkan produk turunan berupa tas dan aksesori.
Bunga dan daun tanaman itu ia jadikan bentuk aksesori tersendiri, sehingga satu tanaman bisa lahir dalam beberapa wujud produk sekaligus.
Proses produksinya melibatkan banyak tangan dari latar berbeda. Anak-anak SMK belajar teknik pewarnaan bersama perajin senior, sementara penyandang disabilitas turut ambil bagian dalam tahap-tahap produksi.
Kolaborasi lintas generasi dan lintas kemampuan ini memperkaya corak, sekaligus membuat industri wastra Balikpapan terasa lebih terbuka bagi siapa saja yang ingin terlibat.