KOMPAS.com - Tak hanya gedung-gedung, pemerintah juga membangun embung di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN).
Selain menjadi infrastruktur konservasi air dan dapat memperindah KIPP, embung ini juga berfungsi menyediakan air baku untuk keperluan non-air minum, menurunkan suhu di sekitar KIPP, serta menjadi ruang rekreasi publik.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, saat ini sudah dibangun lebih dari 30 embung di IKN yang akan memiliki fungsi utama untuk konservasi air.
"Embung juga dapat mempengaruhi iklim mikro di IKN, karena itu kita perlu terus membangun embung-embung lainnya hingga 60 unit," ujarnya kala meninjau sambil menikmati senja di Embung MBH di KIPP IKN, Senin (29/7/2024).
Baca juga: Jokowi Akan Groundbreaking Lima Proyek IKN Pekan Depan, Milik BCA hingga Swissbell
Embung MBH, salah satu embung di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN)."Kalau sore kita bisa duduk-duduk di embung MBH ini sambil melihat Istana Garuda dan Istana Negara, serta kantor-kantor Kemenko yang akan selesai dalam waktu dekat," tukas Basuki.
Ada pun Embung MBH memiliki tampungan 66.000 meter kubik dan menjadi bagian dari area Sumbu Kebangsaan dekat dengan Istana Negara dan Istana Garuda. Embung ini juga dilengkapi dengan pedestrian, amphiteater, jogging track, hingga ruang publik.
Pada ujung embung terlihat kawasan perbukitan hijau di balik bilah sayap garuda pada Istana Garuda. Jalur jogging track yang menjadi akses pelintas di kawasan embung, termasuk jembatan kayu yang kokoh. Tampak enam ekor angsa bermain di tepi embung.
Embung MBH, salah satu embung di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN).Baca juga: Kenapa Influencer Lokal Tidak Diajak Jokowi Tinjau IKN?
Secara keseluruhan, pembangunan Embung KIPP juga menerapkan konsep Smart Water Management System dalam perawatan area terbuka hijau dengan penyiraman otomatis (sprinkler) yang beroperasi menggunakan sensor yang dapat mendeteksi kadar air tanah, suhu, kelembaban dan ph tanah.
Selain itu, guna menjaga kualitas air pada embung terdapat bangunan pendukung berupa sediment trap untuk mengendalikan jumlah sedimen yang masuk ke dalam embung.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.