Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keandalan Kereta Otonom Tanpa Rel Buatan China Dijajal di IKN

Kompas.com, 10 Agustus 2024, 11:30 WIB
Add on Google
Muhdany Yusuf Laksono,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

NUSANTARA, KOMPAS.com - Kereta otonom tanpa rel atau Autonomous Rail Rapid Transit (ART) mulai diuji teknis di Sumbu Kebangsaan Sisi Timur, Kawasan Inti Pusat Pemerinatahan (KIPP), Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Sabtu (10/8/2024).

Ada pun ART yang menjalani pengujian merupakan produk garapan CRRC dan Norinco International Corperation Ltd yang berbasis di China.

Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN (OIKN) Mohammed Ali Berawi mengatakan, pengujian dilakukan untuk mengevaluasi sejauh mana keandalan teknologi ART.

"Baik dalam operasionalnya, apakah ART dapat berfungsi fully otomatis atau masih menggunakan otomatis dan manual, atau berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk investasi, operation, maintenance, dan seterusnya," ujarnya pada Sabtu (10/8/2024).

Baca juga: Sabtu Ini, Pesawat Tempur TNI AU Akan Demo Udara di IKN

Kemudian dari segi kapasitas penumpang, ART memiliki tiga gerbong yang dapat menampung sebanyak 300 orang.

Untuk itu, lanjut Ale, ART akan diuji coba dengan kapasitas penuh 300 orang agar dapat diketahui sejauh mana pengaruhnya terhadap pergerakan, kecepatan, kualitas pelayanan, dan seterusnya.

"Atau mungkin nanti angka ideal kita bicara 100-150 passenger dan seterusnya. ART ini juga bisa bahkan sampai ke lima gerbong, jadi kita bicara 300-500 orang dalam sekali keberangkatan," terangnya.

Deputi Transformasi Hijau dan Digital OIKN Mohammed Ali Berawi saat uji coba atau Proof of Concept (PoC) Autonomous Rail Rapid Transit (ART) di Sumbu Kebangsaan Sisi Timur, Kawasan Inti Pusat Pemerinatahan (KIPP), Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Sabtu (10/8/2024).KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Deputi Transformasi Hijau dan Digital OIKN Mohammed Ali Berawi saat uji coba atau Proof of Concept (PoC) Autonomous Rail Rapid Transit (ART) di Sumbu Kebangsaan Sisi Timur, Kawasan Inti Pusat Pemerinatahan (KIPP), Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Sabtu (10/8/2024).
Selain itu, payung hukum yang mengatur moda transportasi berteknologi seperti ART dirasa juga mulai perlu dirancang.

Sebab, ART berkarakteristik kereta dan bus, sehingga beroperasi di jalan raya, bukan rel baja atau beton seperti kereta api.

"Maka misalnya akan terkait dengan tema-teman Kemenhub, teman-teman Kementerian PUPR untuk jalan dan seterusnya, ini kita memerlukan kerja sama dengan teman-teman Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk sensor dan frekuensi, bahkan nanti dengan pengaturan di jalan raya, prioritas dan seterusnya juga akan melibatkan teman-teman dari Polri," tutur Ale.

Baca juga: Mulai Sabtu 10 Agustus Besok, Tol IKN Fungsional

Prinsipnya, PoC ini diharapkan dapat memberikan data dan fakta di lapangan. Sehingga bisa menjadi basis pengambilan keputusan serta mengevaluasi sejauh mana adopsi dan adaptasi teknologi dapat diterapkan dan dikembangkan di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau