Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menurut Walhi Pemindahan IKN Justru Upaya Kolonialisasi

Kompas.com, 19 Agustus 2024, 07:00 WIB
Add on Google
Masya Famely Ruhulessin,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

NUSANTARA, KOMPAS.com - Kepala Divisi Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Rere Christanto menyebut pemindahan IKN merupakan gambaran nayta bahwa sedang terjadi kolonialisasi di Indonesia.

Menurutnya peringatan HUT ke-79 RI kali ini, Sabtu (17/8/2024) harus menjadi ruang refleksi bagi pemerintah soal definisi kolonialisme.

Seperti diketahui, beberapa hari lalu Presiden Joko Widodo baru-baru ini menuturkan bahwa dirinya kerap dibayang-bayangi oleh “bau kolonial” selama tinggal di Istana Kepresidenan Jakarta dan Bogor.

“Hanya ingin menyampaikan bahwa itu (Istana lama) sekali lagi (dibuat) Belanda. Bekas Gubernur Jenderal Belanda dan sudah kita tempati 79 tahun. Ini bau-bau kolonial selalu saya rasakan setiap hari dibayang-bayangi,” ucap Jokowi di hadapan para kepala daerah ketika berkunjung ke IKN yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (13/8/2024).

Baca juga: Kontroversi Istana Garuda IKN, IAI Tegaskan Karya Seni Berbeda dengan Rancangan Arsitektur

Rere menerangkan jika kolonialisme itu bukan terletak pada bangunan namun lebih kepada watak seseorang.

“Pemerintahan saat ini tidak mengedepankan komunikasi yang baik dengan warga karena tidak mengikutsertakan warga di dalam pembangunan. Bahkan, hak-hak warga yang dirampas. Ada ribuan hektar wilayah di IKN yang kemudian terdeforestasi. Itu justru menjadi watak kolonial dari pemerintahan,” ungkap Rere dikutip dari Kanal YouTube YLBH Indonesia.


Bahkan dikatakan, pemindahan Ibukota Negara ke Kalimantan justru merupakan perluasan dari kolonialisme.

Rere menilai, pemindahan IKN ini seharusnya menjadi ruang partisipasi dan kemerdekaan untuk warga setempat.

“Sampai hari ini kita masih melihat bahwa justru pemindahan IKN menjadi bagian dari kolonialisme. Ruang-ruang pertambangan dan pertanian warga lokal justru diambil oleh industri-industri ekstraktif. Hak warga pun diabaikan,” tandas Rere.

Diketahui, pada Sabtu (17/8/2024) saat perayaan HUT ke-79 RI di IKN, ada protes yang diserukan oleh sekelompok masyarakat di sekitar IKN serta sejumlah organisasi masyarakat.

Baca juga: Jokowi Resmikan Plaza Seremoni Sumbu Kebangsaan di IKN

Sebagai bentuk protes, dilakukan pembentangan sebuah kain merah berukuran 50×15 meter dengan corak tulisan putih berbunyi “Indonesia is not for sale, Merdeka!” di Jembatan Pulau Balang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau