Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menteri Sarawak Bawa Proposal ke IKN, Bangun Jalur Kereta Lintas 3 Negara

Kompas.com, 11 Desember 2025, 15:59 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Di tengah hiruk-pikuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang semakin menjadi sorotan global, minat investasi dari negara tetangga terus mengalir deras.

Pada Rabu (10/12/2025), Otorita IKN menyambut kunjungan kenegaraan dari Menteri Pengangkutan Sarawak, YB Dato Sri Lee Kim Shin, di Kantor Otorita IKN.

Pertemuan ini bukan sekadar diplomasi biasa, melainkan momentum emas untuk menjajaki kolaborasi lintas sektor yang bisa mengubah wajah Pulau Borneo menjadi pusat konektivitas dan pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara.

Baca juga: Air Borneo Siap Buka Rute Penerbangan Langsung ke IKN

Kunjungan ini datang di saat yang tepat, ketika IKN sedang memasuki fase akselerasi pembangunan.

Sebagai ibu kota baru Indonesia yang dirancang sebagai "Kota Dunia untuk Semua", IKN tidak hanya fokus pada infrastruktur hijau dan berkelanjutan, tapi juga pada integrasi regional.

Sarawak, sebagai negara bagian Malaysia yang kaya sumber daya alam dan berbatasan langsung dengan Kalimantan, melihat peluang besar untuk bersinergi.

Ini termasuk sektor transportasi, pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan, yang semuanya bisa memperkuat ikatan antarnegara di Borneo.

Dari Sejarah hingga Visi Masa Depan

Pulau Borneo, yang dibagi antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, telah lama menjadi simbol potensi ekonomi yang belum tergarap sepenuhnya.

Dengan luas wilayah mencapai 743.330 kilometer persegi, lebih besar dari Semenanjung Malaysia, pulau ini kaya akan minyak, gas, hutan tropis, dan biodiversitas.

Baca juga: Strategi BI Kaltim Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Tekan Ketergantungan Batubara

Namun, tantangan utamanya adalah konektivitas: jalan raya yang terfragmentasi, sungai sebagai jalur utama transportasi, dan kurangnya infrastruktur modern telah menghambat pertumbuhan.

Inisiatif seperti Trans-Borneo Railway bukanlah ide baru. Sejak tahun 2010-an, ada diskusi tentang jaringan kereta api yang menghubungkan Sabah, Sarawak, Brunei, dan Kalimantan.

Studi kelayakan terbaru, yang dipimpin oleh pemerintah Malaysia, diperkirakan selesai pada kuartal ketiga 2026.

Proyek ini diestimasi menelan biaya hingga 15 miliar dolar AS dan akan membangun jalur kereta cepat dengan kecepatan hingga 350 kilometer per jam, menghubungkan kota-kota utama seperti Kuching, Bandar Seri Begawan, dan Balikpapan.

Baca juga: Kisah Relokasi Warga Gresik demi Bandara Internasional Nusantara IKN

Jika terealisasi, ini bisa memangkas waktu perjalanan antarnegara dari berhari-hari menjadi hanya beberapa jam, membuka pintu bagi perdagangan, pariwisata, dan migrasi tenaga kerja yang lebih efisien.

Di sisi Indonesia, IKN dirancang sebagai katalisator perubahan ini. Lokasinya di Kalimantan Timur, dekat dengan Balikpapan dan Samarinda, membuatnya ideal sebagai hub regional.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau