Dalam pertemuan strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Balai Kota IKN, Rabu (15/10/2025), terungkap sebuah fakta krusial terkait kualitas data riset IKN.
Fakta tersebut secara tidak langsung menanggapi kekhawatiran publik terhadap hasil riset sumber daya air sebelumnya yakni potensi kekeringan IKN selama ini hanya didasarkan pada analisis citra satelit dan belum melalui verifikasi lapangan yang mendalam.
BRIN Luruskan Data Air IKN
Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Rokhis Khomarudin, menegaskan pentingnya verifikasi data secara langsung di lapangan.
Prinsip "Garbage In, Garbage Out" menjadi kunci, menekankan bahwa kualitas riset ditentukan oleh kualitas data masukan.
Rokhis mengakui, terkait hasil riset [sumber daya air] sebelumnya, sejauh ini informasinya masih berdasarkan citra satelit dan belum melalui kegiatan lapangan.
Dengan kata lain, riset itu masih awal, maka BRIN masih perlu mengonfirmasi lebih dahulu.
"Dengan hadirnya para periset tersebut langsung ke lapangan, harapannya dapat melihat bagaimana kondisi eksisting (sebenarnya) yang ada di IKN. Dengan adanya tambahan data yang dilakukan BRIN di IKN, memperykuat hasil riset sebelumnya,” jelas Rokhis, dikutip Kompas.com, Sabtu (18/10/2025).
Rombongan tujuh peneliti BRIN lintas bidang pun langsung meninjau infrastruktur vital seperti 54 embungyang telah beroperasi, Bendungan Sepaku Semoi, dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sanggai.
Hasil kunjungan ini membuktikan air baku di IKN terjamin, bahkan mendukung ekonomi hijau lokal, seperti budidaya kopi liberika di sekitar DAS Sanggai.
Toponimi Berbasis Budaya dan Futuristik
Agenda utama kolaborasi ini adalah penyusunan kajian penamaan rupa bumi (toponimi) IKN, mencakup nama jalan, embung, hingga gedung pemerintahan. Targetnya selesai sebelum akhir tahun 2027.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyebut ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat identitas kota menjelang fungsinya sebagai Ibu Kota Politik pada tahun 2028.
“Toponimi ini akan sangat diperlukan. Tidak hanya nama jalan saja, tetapi setiap kawasan IKN harus kita beri identitas,” tegas Basuki.
Rokhis menambahkan, penamaan ini akan menjadi "Peta Sakral" identitas kota yang komprehensif.
Prosesnya melampaui aspek geografis, yaitu melibatkan masukan warga lokal dan mempertimbangkan unsur budaya, nama-nama yang modern, mudah diingat, dan mencerminkan visi smart city.
Riset dilaksanakan dalam dua tahap, mulai dari riset lapangan yang mendalam hingga penyusunan peta toponimi yang akurat.
Selain itu, BRIN dan Otorita IKN merencanakan kerja sama pengembangan Social Early Warning System (SEWS).
SEWS dirancang sebagai instrumen vital untuk mendeteksi secara dini potensi gesekan atau konflik sosial, dan engantisipasi ketidakstabilan di IKN yang multikultural dan akan mengalami lonjakan populasi pendatang.
Penguatan tata sosial melalui SEWS ini menjadi lapisan keamanan non-fisik yang krusial untuk menjaga stabilitas dan harmoni ibu kota baru.
Sinergi antara pembangunan infrastruktur hijau (air terjamin) dan pembangunan sosial (anti-konflik) ini menegaskan IKN dirancang sebagai peradaban baru Indonesia yang cerdas dan berkelanjutan.
https://ikn.kompas.com/read/2025/10/18/191242787/brin-akui-klaim-ikn-kekeringan-masih-riset-awal-dari-citra-satelit