Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekonomi Penyangga IKN Timpang: Balikpapan Tercekik Tiket Pesawat, PPU Deflasi

Kompas.com, 4 Juni 2026, 21:38 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com — Perkembangan harga barang dan jasa di gerbang logistik Kalimantan Timur menunjukkan pola pergerakan yang timpang.

Memasuki pertengahan kuartal kedua 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan mencatatkan tren peningkatan, sementara inflasi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru bergerak melandai.

Sektor transportasi udara dan fluktuasi harga komoditas energi global menjadi motor utama yang mendikte arah laju inflasi domestik di kedua wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) tersebut.

Baca juga: Dibayangi Inflasi, WIKA Pacu Proyek Jalan Kompleks Yudikatif IKN

Berdasarkan data riset terintegrasi, tingkat inflasi tahunan di kedua wilayah masih berada di bawah angka rata-rata nasional yang bertengger di posisi 3,08 persen atau year-on-year (yoy), maupun angka inflasi gabungan empat kota utama di Provinsi Kalimantan Timur sebesar 3,04 persen (yoy).

Manajemen moneter daerah memperkirakan tingkat harga komoditas ke depan akan tetap bertahan dalam koridor target sasaran nasional tahun 2026, yakni pada kisaran 2,5 persen-1 persen.

Tiket Pesawat dan Bahan Bakar Bebani Balikpapan

Kenaikan IHK di Kota Balikpapan yang menyentuh angka 0,27 persen secara bulanan month-to-month (mtm) dipicu oleh lonjakan pengeluaran pada kelompok transportasi dengan kontribusi andil sebesar 0,43 persen (mtm).

Kelompok ini mencakup lima komoditas utama pendorong inflasi, yaitu tarif angkutan udara, solar, pelumas mesin, roti manis, dan beras premium.

Lonjakan tarif penerbangan domestik berakar pada kebijakan pemerintah yang menerapkan penyesuaian biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) sebesar 10 persen hingga 100 persen mulai 13 Mei 2026.

Langkah ini diambil sebagai respons langsung atas kenaikan harga avtur global. Beban biaya ini diperberat oleh tingginya permintaan tiket pesawat akibat adanya dua periode libur panjang (long weekend) sepanjang Mei 2026.

Baca juga: Inflasi Kaltim Melandai, tapi Transportasi dan Energi Masih Menghantui

Pada sektor energi industri, kebijakan PT Pertamina yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) diesel non-subsidi secara berkala turut mengerek biaya operasional logistik darat.

Akibatnya, harga komoditas pelumas kendaraan, bahan pokok beras premium, hingga produk hilir seperti roti manis ikut terkerek naik dipicu oleh pembengkakan ongkos distribusi serta kenaikan harga kemasan plastik kempaan hulu.

Deputi Direktur yang juga menjabat sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menuturkan, kenaikan harga minyak dunia memberikan dampak rambatan langsung pada struktur biaya moda transportasi dan barang logistik di tingkat loka.

Sebaliknya, rem pengerem inflasi di Balikpapan dikontribusikan oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil deflasi 0,08 persen (mtm).

Penurunan harga eceran tertinggi dipimpin oleh komoditas gas domestik, kangkung, emas perhiasan, daging ayam ras, dan tomat.

"Penurunan harga emas lokal dipengaruhi oleh beralihnya manajer investasi global ke instrumen portofolio non-komoditas, sementara penurunan harga sayur-mayur dan hortikultura didorong oleh melimpahnya pasokan luar pulau yang memasuki masa panen raya," ungkap Robi, dikutip Kompas.com, Kamis (4/6/2026).

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau