Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Peter Yogan Gandakusuma
Pengamat Perkotaan

Peter Yogan Gandakusuma meraih gelar Master of Science Regional Planning dari The University of Sheffield, South Yorkshire, Inggris. Bersama sejumlah kolega, Peter tengah mengembangkan Center for Sustainable Development Studies (CSDS) Universitas Indonesia. CSDS merupakan pusat riset dan bagian dari Center for Strategic and Global Studies (CSGS), Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia.

Memahami Polemik Istana Garuda di IKN, Sebuah Karya Ilegal? (I)

Kompas.com, 19 Agustus 2024, 12:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PESTA HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2024 yang digelar di Istana Negara, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), Ibu Kota Nusantara (IKN), berlangsung meriah, lancar dan sukses.

Publikasi yang masif tentang demonstrasi "kemegahan" Istana Negara dan Istana Garuda menjadi santapan warganet untuk diperbincangkan dan kemudian diperdebatkan dengan persepsi dan interpretasi masing-masing.

Sejumlah platofrm media sosial pun riuh rendah, hiruk pikuk, dan panas dengan beragam argumentasi sesuai pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki warganet.

Arsitektur Istana Garuda dan Istana Negara adalah satu isu yang paling hot diperdebatkan baik debat kusir maupun ala-ala akademis.

Baca juga: Basuki Bantah Istana Garuda di IKN Seperti Peninggalan Kolonial

Dua bangunan ini dianggap sebagai bangunan hantu, dan gedung siluman vilain menyeramkan di latar belakang dan pilar-pilar yang melambangkan diktatorian, dan intimidatif di latar depan.

Bentuk dominan menyerupai Garuda yang dibuat oleh seniman patung ulung Nyoman Nuarta inilah yang menuai banyak komentar dan kritik.

Terlepas dari beragam komentar sinis dan yang juga memuji, bagian terpenting dalam perdebatan ini adalah dua istana tersebut digagas oleh seorang pematung yang celakanya disebut sejumlah media arus utama (karena keterbatasan pengetahuan penulis dan editornya?) sebagai arsitek.

Mari kita telaah secara seksama.

Kontroversi pertama adalah tentang etika profesi. Hal ini mencuat karena konteks arsitek bukan hanya kata benda dalam kalimat atau artikel, tetapi juga menunjukkan jenjang profesionalisme dalam profesi arsitektur.

Nyoman Nuarta mengatakan ia didukung tim ahli arsitek dan banyak pakar meski tidak menampik bahwa ia adalah perancang utamanya.

Sejumlah media arus utama juga menempatkan Nyoman Nuarta sebagai arsitek atas karya Istana Garuda dan Istana Negara di IKN.

Mengenyampingkan hal ini, Nyoman Nuarta tidak diragukan kejeniusannya sebagai pematung andal dengan karya-karya monumental di Indonesia. Dia bahkan mendapatkan pengakuan dan anugerah internasional.

Namun sebagai arsitek, nanti dulu. Tahbis arsitek hanya disematkan pada mereka yang memenuhi syarat untuk melakukan praktik arsitektur sesuai dengan Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 2017 tentang Arsitek.

Beleid ini menjelaskan bahwa arsitek adalah seseorang yang telah memenuhi syarat untuk melakukan praktik arsitektur dan memiliki Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA).

Baca juga: Kawasan Istana IKN Beres Dibangun, Siap Gelar Upacara Kemerdekaan

Subyek arsitek dan rekam jejaknya perlu tercatat di Dewan Arsitek Indonesia (DAI) yang membantu pemerintah dalam penyelenggaraan keprofesian arsitek.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau