Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Peter Yogan Gandakusuma
Pengamat Perkotaan

Peter Yogan Gandakusuma meraih gelar Master of Science Regional Planning dari The University of Sheffield, South Yorkshire, Inggris. Bersama sejumlah kolega, Peter tengah mengembangkan Center for Sustainable Development Studies (CSDS) Universitas Indonesia. CSDS merupakan pusat riset dan bagian dari Center for Strategic and Global Studies (CSGS), Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia.

Ibu Kota Nusantara, Pameran Pembangunan dan Relasi Kuasa

Kompas.com, 20 Oktober 2024, 11:47 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Ini adalah gagasan ideal sebab perlu disadari bahwa bagaimanapun IKN dibangun di Pulau Kalimantan sebagai salah satu paru-paru dunia.

Namun, pameran pembangunan ini ditandai dengan berdirinya bangunan-bangunan pemerintah termasuk desain istana presiden yang kontroversial meski APBN untuk tahun
2025 nanti ditetapkan hanya sebesar Rp 143,1 miliar.

Jumlah ini tentu sangat kontras dibandingkan anggaran yang dihabiskan pemerintah ketika mantan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyebut pembangunan IKN sudah menelan biaya hingga Rp 140,7 triliun per Agustus 2024.

Baca juga: Diana Kusumastuti: IKN Jelas Lanjut

Terlepas dari polemik pembiayaan yang akan dipangkas, namun kebijakan pembangunan di IKN sebaiknya turut memamerkan dan mempromosikan inovasi-inovasi keberlanjutan pembangunan dengan modus Environmental Sensitive Development (ESD) agar menjadi model bagi bangunan lain dan kota-kota sekitarnya kelak.

Pendekatan pembangunan ini mendorong berbagai aspek teknologi, penggunaan material, seni, dan manajemen mitigasi bencana yang mendukung emisi karbon rendan demi kepastian terjaganya hutan tropis di Kalimantan tetap hadir.

Namun implementasi ini juga bukanlah sesuatu yang murah.

Pembangunan Rendah Karbon

Menurut laporan pada laman Our World In Data, 95 persen deforestasi global terjadi di daerah tropis.

Brasil dan Indonesia menyumbang hampir setengahnya setelah penebangan hutan dalam jangka waktu yang lama sejak masa Orde Baru.

Artinya, pembangunan gedung-gedung baru dan infrastruktur di IKN tetaplah menyebabkan terjadinya deforestasi dan hutan-hutan yang hilang akan memerlukan waktu lama untuk dapat tumbuh kembali.

Kendatipun demikian, sebagian besar hutan di wilayah Nusantara ditenggarai bukan lagi hutan tropis melainkan adalah hutan produksi dan wilayah pertambangan termasuk di Kalimantan Timur. Artinya, kepentingan ekonomi tetap lebih utama dibandingkan ekologi.

Walaupun Otorita IKN bertekad untuk membalikkan deforestasi lewat cara proses reboisasi dan memulihkan ekologi tersebut, namun penghijauan kembali hutan tropis di Kalimantan memang terasa kurang gencar.

Belum lagi tantangan untuk memenuhi target yang ambisius untuk mematuhi Kesepakatan Paris (Paris Agreement) guna mengurangi dampak emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 1,6 ton CO2 per kapita.

Kemudian, ada Rencana Operasional Pemanfaatan Hutan dan Lahan Lain Indonesia atau sering disebut Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 diarahkan untuk mencapai tingkat emisi minus 140 Mt CO2e pada tahun 2030, dan minus 304 Mt CO2e pada tahun 2050.

Sehingga tingkat emisi netto seluruh sektor secara nasional mencapai 540 Mt CO2e atau setara dengan 1,6 ton CO2 per kapita.

Jika memang langkah nyata pembangunan IKN mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon, maka idealnya lingkungan adalah pilar utama dari setiap upaya pembangunan keberlanjutan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau