Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Peter Yogan Gandakusuma
Pengamat Perkotaan

Peter Yogan Gandakusuma meraih gelar Master of Science Regional Planning dari The University of Sheffield, South Yorkshire, Inggris. Bersama sejumlah kolega, Peter tengah mengembangkan Center for Sustainable Development Studies (CSDS) Universitas Indonesia. CSDS merupakan pusat riset dan bagian dari Center for Strategic and Global Studies (CSGS), Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia.

Ibu Kota Nusantara, Pameran Pembangunan dan Relasi Kuasa

Kompas.com, 20 Oktober 2024, 11:47 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Misalnya, inovasi dalam pengolahan sampah dan energi terbarukan yang dapat membantu mengurangi emisi karbon.

Solusi pengelolaan sampah yang dihadirkan tidak hanya fokus pada daur ulang tetapi juga pada penerapan teknologi untuk mengubah sampah menjadi energi. Untuk itu, situs energi terbarukan perlu dibangun sejak sekarang.

Menurut IMPAX Sustainability Hub, suatu komunitas yang berkonsnetrasi pada kampanye pembangunan berkelanjutan di Indonesia, pembangunan yang peka terhadap lingkungan atau Environmental Sensitive Development (ESD) sangat diperlukan ketika merancang dan membangun demi kesehatan serta keselamatan manusia.

Pendekatan ESD ini akan melindungi wilayah yang sensitif terhadap lingkungan, seperti sungai, dataran banjir, dan habitat spesies yang terancam punah.

Baca juga: Ini Potensi Opsen Pajak yang Bisa Dipungut di IKN

Selain itu, berbagai teknik pembangunan lingkungan modern seperti sistem pengolahan air bersih yang dapat langsung diminum dan pengelolaan ekosistem diutamakan demi mempertahankan keanekaragaman hayati dan keberlanjutan.

Tentu juga menjadi pertanyaan bahwa apakah pembangunan di IKN telah memiliki jejak karbon rendah, berdaur ulang, memperpanjang siklus hidup bangunan dan berhasil mengurangi limbah konstruksi?

Kemudian, apakah target emisi nol bersih atau jamak disebut netralitas karbon atau netralitas iklim menjadi target dan audit pembangunan di IKN nanti?

Belum lagi masalah di jalur logistik perairan Kalimantan Timur, risiko abrasi dan semakin berkurangnya ekosistem alami mangrove.

Seharusnya, keunggulan pembangunan di IKN dengan model ESD, audit netralitas karbon, perang perubahan iklim dan bangun masyarakat yang lebih ramah lingkungan adalah puncak perayaan serta pameran pembangunan dari mantan Presiden Jokowi, terlepas dari kritik atas perilaku politik dan kebijakan ideologi developmentalismenya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau