Penulis
Selama ini Pemerintah menjalankan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) untuk menarik investasi swasta.
Akan tetapi, hingga pelaksanaan groundbreaking ke-8, realisasi investasi swasta masih jauh dari target Rp 100 triliun sampai akhir 2024, yakni baru sekitar Rp 58,4 triliun.
Sementara pelaksanaan groundbreaking ke-9 yang rencananya akan diikuti oleh lima investor asing dan domestik, hanya senilai Rp 5 triliun.
"Pembangunan IKN kan masih berjalan, akan ada groundbreaking ke-9. Jadi tidak benar meleset dari target," ungkap Deputi Bidang Investasi dan Pendanaan Otorita IKN Agung Wicaksono.
Adapun tantangan lainnya yang dihadapi terkait keberlanjutan IKN menyangkut ketersediaan tenaga ahli dalam berbagai bidang, termasuk konstruksi, perencanaan kota, dan manajemen proyek dalam jumlah besar.
Untuk itu, perlu dilakukan pelatihan intensif bagi tenaga kerja lokal agar dapat memenuhi kebutuhan pembangunan IKN.
Daya Dukung Lingkungan
Pembangunan infrastruktur yang masif di IKN dianggap berpotensi merusak lingkungan, seperti deforestasi, pencemaran air, dan perubahan iklim mikro.
Mengutip data Forest Watch Indonesia (FWI), dalam kurun waktu tiga tahun (2018-2021) saja, deforestasi di wilayah IKN mencapai 18.000 hektar, dengan 14.010 hektar di antaranya berada di hutan produksi.
Kemudian, 3.140 hektar di Area Penggunaan Lain (APL), sisanya 807 hektar di Tahura, 9 hektar Hutan Lindung, dan 15 hektar di area lainnya.
Sementara sepanjang 2022 sampai Juni 2023, luas areal terdeforestasi mencapai 1.663 hektar.
Hal ini juga sejalan dengan adanya penampakan perubahan tutupan yang ditampilkan oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) atau Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat pada tanggal 11 Februari 2024.
Juru Kampanye Greenpeace Indonesia Rio Rompas menengarai, deforestasi di IKN yang demikian masif, telah mengakibatkan berbagai dampak negatif, seperti hilangnya habitat flora dan fauna, erosi tanah, dan pencemaran.
Lebih dari itu, deforestasi hutan alam ke depan dapat menghilangkan fungsi hutan sebagai konservasi air dan tanah, pengatur iklim mikro, serta sumber pangan dan obat-obatan bagi masyarakat.
Tantangan lainnya adalah adaptasi masyarakat lokal dengan perubahan sosial dan budaya yang cepat akibat pembangunan IKN.
Jika adaptasi tidak berjalan dengan baik, berpotensi menyulut konflik sosial akibat perbedaan kepentingan antara masyarakat lokal dengan pihak pengembang atau pemerintah.
Ketersediaan energi yang besar untuk mengoperasikan kota baru juga merupakan tantangan yang signifikan.
Demikian halnya dengan pengelolaan sampah dalam jumlah besar yang dihasilkan oleh aktivitas manusia di IKN memerlukan sistem pengelolaan yang modern dan efisien.
Meskipun masih banyak tantangan yang harus dihadapi, IKN memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia dan menjadi contoh kota pintar yang berkelanjutan.
Sebagaimana dikatakan Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN Mohammed Ali Berawi. Menurutnya, IKN menawarkan potensi yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dengan perencanaan yang matang dan dukungan dari berbagai pihak, IKN dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dan menjadi contoh kota modern yang berkelanjutan.