Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Membedah Visi Menag, Jadikan Masjid Negara IKN Kembaran Istiqlal

Kompas.com, 21 Februari 2026, 19:15 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Di sela rimbunnya belantara Kalimantan yang tengah bersalin rupa menjadi pusat peradaban, sebuah narasi spiritual mulai dipahatkan.

Sabtu subuh (21/2/2026), kabut tipis masih menyelimuti cakrawala saat Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, berdiri di mihrab Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di bawah kubah megah berbentuk sorban, Menag mengimami barisan jemaah, membawa misi besar: meniupkan ruh ke dalam raga bangunan-bangunan yang tengah melesat di IKN.

Baca juga: Menag Jadi Khatib Salat Jumat Pertama Ramadan di Masjid Negara IKN

Kehadiran Menag membawa misi menyatukan dua kutub spiritual Indonesia, menjadikan Masjid Negara IKN sebagai "masjid kembar" bagi Masjid Istiqlal Jakarta.

Sebuah jembatan metaforis yang menghubungkan Barat dan Timur melalui konektivitas batin dan teknologi.

Jembatan Spiritual Digital

Visi "masjid kembar" dirancang dengan mengintegrasikan program keagamaan yang tak terputus antara Jakarta dan IKN.

Melalui teknologi real-time, setiap kajian ilmu yang berpendar di Istiqlal akan bergaung secara bersamaan di Masjid Negara IKN, begitu pula sebaliknya.

“Ilmu apa pun yang kita terima di Masjid Istiqlal, ini akan terhubung dengan apa yang kita terima di masjid ini. Kalau di sini saya hadir, maka Istiqlal-nya adalah Zoom. Kalau saya di Istiqlal, maka di sini Zoom,” ujar Nasaruddin.

Baca juga: Canggih, Elemen Liturgi Basilika Nusantara IKN Dioperasikan secara Digital

Lebih dari sekadar layar digital, sinergi ini juga merambah pada penguatan kualitas sumber daya manusia.

IKN diproyeksikan menjadi poros baru kaderisasi ulama untuk wilayah Indonesia Timur melalui program beasiswa LPDP dan Pendidikan Kader Ulama (PKU), melengkapi peran yang selama ini telah dijalankan oleh Istiqlal untuk wilayah Barat.

IKN sebagai Kota Mahbuub

Menyaksikan transformasi IKN yang berjalan masif dalam setahun terakhir, Menag tak kuasa menyembunyikan getar emosinya.

Baginya, kejayaan fisik berupa Istana Garuda maupun gedung-gedung kementerian akan terasa hambar jika kehilangan sentuhan spiritualitas.

Ia bermimpi IKN tumbuh menjadi kota yang mahbuub, sebuah diksi Arab yang berarti "yang dicintai" atau "yang dirindukan".

Baca juga: Jamin Kelancaran Lebaran, BI Kaltim Siapkan Rp 2,18 Triliun Uang Tunai

“Saya berharap insyaallah ke depan nanti itu IKN akan menjadi kota yang dirindukan, jadi mahbuub ya,” ungkapnya.

Ia menekankan agar setiap aktivitas di Nusantara senantiasa dipagari oleh kalimat Bismillahirrahmanirrahim sebagai sumber keberkahan agar kota ini tetap tegak di atas khitahnya sebagai pusat peradaban yang beretika.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau