Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dibayangi Inflasi, WIKA Pacu Proyek Jalan Kompleks Yudikatif IKN

Kompas.com, 29 Mei 2026, 22:42 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mencatatkan percepatan pengerjaan pada proyek pembangunan Jalan Kawasan Kompleks Yudikatif di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Hingga paruh pertama Mei 2026, realisasi fisik intervensi jaringan jalan pembagi di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) tersebut menyentuh angka 19,35 persen, melampaui target perencanaan awal yang dipatok sebesar 18,29 persen.

Baca juga: Masjid Negara IKN Siap Gelar Shalat Idul Adha Rabu 27 Mei 2026

Pencapaian deviasi positif sebesar +1,06 persen ini menjadi indikator penting dalam menjaga ritme kerja konstruksi hulu.

Otoritas menargetkan seluruh paket pekerjaan penguatan konektivitas internal lembaga peradilan ini rampung total dan berfungsi penuh pada 31 Desember 2027, guna mendukung pemindahan aparatur sipil negara (ASN) klaster yudisial.

Metode Kerja Paralel

Akselerasi di lapangan dicapai melalui eksekusi pekerjaan secara paralel pada beberapa segmen struktural.

Tim teknis di lapangan tengah memacu pemasangan lapisan geotekstil untuk memperkuat daya dukung tanah dasar, pematangan timbunan, serta pembangunan saluran drainase utama.

Pada pekerjaan sub-struktur, WIKA menerapkan sistem pipa pendingin (cooling pipe) yang diintegrasikan langsung pada proses pengecoran fondasi masif (pile cap mass concrete).

Baca juga: Otorita Klaim Sumber Energi IKN dari PLTS dan Tidak Merusak Hutan

Metode ini wajib diterapkan pada beton bervolume besar untuk mengendalikan lonjakan temperatur hidrasi di bagian dalam semen, sehingga meminimalkan risiko keretakan termal (thermal cracking) yang dapat menurunkan kekuatan jangka panjang bangunan.

Selain itu, konstruksi terowongan utilitas terpadu atau Multi Utility Tunnel (MUT) memanfaatkan metode cetakan bergeser (sliding formwork).

Teknologi cetakan vertikal bergerak ini memotong waktu tunggu pengerasan beton konvensional, sehingga mempercepat perakitan dinding ruang bawah tanah tempat pipa air dan jaringan kabel digital IKN ditempatkan.

Load Scanner

Untuk mengunci akurasi laporan keuangan dan mencegah tumpahan material di luar kapasitas, manajemen memigrasikan sistem pengawasan manual ke alat pemindai digital load scanner.

Setiap truk pengangkut agregat, batu belah, dan semen yang masuk ke perimeter proyek wajib melewati gerbang sensor pemindaian untuk diverifikasi volume muatannya secara real-time.

Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, menjelaskan bahwa koordinasi mutu dan ketepatan kalkulasi biaya di lapangan menjadi prioritas utama untuk memastikan efisiensi modal kerja perusahaan di tengah fluktuasi harga komoditas.

Baca juga: Otorita Bantah Proyek IKN Merusak Hutan

Menurutnya, WIKA terus memastikan pelaksanaan pembangunan Jalan Kawasan Kompleks Yudikatif berjalan sesuai target melalui penguatan koordinasi, penerapan metode kerja yang efektif, serta pengendalian mutu dan biaya secara berkelanjutan.

"Infrastruktur ini memiliki peran penting dalam mendukung konektivitas kawasan pemerintahan di IKN,” ujar Ngatemin, Jumat (29/5/2026).

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau