Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alarm Pangan di Tiga Penyangga IKN, Harga Sembako Mulai Merangkak Naik

Kompas.com, 19 Mei 2026, 22:49 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ambisi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa konsekuensi instan bagi wilayah penyangganya.

Lonjakan populasi pekerja proyek dan migrasi aparatur sipil negara (ASN) memicu tekanan permintaan yang tidak berbanding lurus dengan kapasitas produksi pangan lokal.

Tiga wilayah penopang utama yakni Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser, kini harus bersiap menghadapi ujian ganda lonjakan konsumsi menjelang Idul Adha 2026 dan ancaman kemarau panjang akibat El Nino.

Baca juga: BI Balikpapan Perkuat Ekonomi Syariah di Penyangga IKN via PESAN 2026

Melalui High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Gabungan di Balikpapan, Senin (18/5/2026), alarm kewaspadaan resmi dibunyikan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengungkapkan, pemantauan early warning system (EWS) hingga minggu kedua Mei 2026 menunjukkan tren kenaikan harga yang persisten pada komoditas utama.

"Sejumlah komoditas meningkat di ketiga wilayah dan perlu terus diwaspadai ke depan, meliputi hortikultura, beras, minyak goreng, gula pasir, dan bahan bakar rumah tangga," kata Robi.

Tekanan Baru dari Sektor Pangan dan Energi

Struktur inflasi di kawasan penyangga IKN tidak lagi bergerak normal. Selain faktor musiman seperti Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), terdapat variabel baru yang memperumit rantai pasok.

Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), jika nantinya berjalan penuh, diproyeksikan bakal menyerap komoditas pangan lokal dalam skala besar.

Jika tidak diantisipasi, penyerapan massal ini akan menciptakan perebutan pasokan di pasar domestik yang berujung pada lonjakan harga.

Baca juga: Jamin Kelancaran Lebaran, BI Kaltim Siapkan Rp 2,18 Triliun Uang Tunai

Masalah ini diperparah oleh ketergantungan Kalimantan Timur terhadap pasokan luar pulau.

Prakiraan cuah hujan periode Juni hingga Agustus 2026 di tiga wilayah tersebut masuk dalam kategori rendah.

Pada saat yang sama, tinggi gelombang perairan Kalimantan Timur yang diprakirakan mencapai 0,5 hingga 1,5 meter mengancam kelancaran distribusi logistik laut dari Jawa dan Sulawesi selaku daerah sentra produksi.

Wakil Walikota Balikpapan, Bagus Susetyo, bersama Bupati PPU Mudyat Noor dan Asisten II Setda Paser Adi Maulana, menegaskan, situasi ini menuntut eksekusi nyata dari strategi koridor 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif).

Bukan hanya pangan, sektor energi domestik juga berada dalam posisi rawan. Lonjakan aktivitas warga menuntut pengawasan ketat pada distribusi BBM subsidi dan LPG 3 kg.

Pemerintah daerah sepakat memperketat pengawasan melalui program subsidi tepat sasaran berbasis QR Code dan NIK untuk menekan potensi kebocoran di tingkat pangkalan resmi.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau