Penulis
Berlawanan dengan Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara justru mencatatkan deflasi sebesar 0,06 persen (mtm).
Sektor penekan harga utama di wilayah ini berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,26 persen.
Komoditas penyumbang penurunan indeks harga terdalam didominasi oleh pasokan daging ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, udang basah, dan tomat.
Penurunan harga komoditas laut seperti ikan tongkol dan udang segar dipengaruhi oleh volume tangkapan nelayan lokal yang meningkat tajam, ditopang oleh kondisi cuaca perairan sekitar Selat Makassar yang kondusif.
Baca juga: Stabilitas di Gerbang IKN: Balikpapan Deflasi, Sinyal Positif Daya Beli
Selain itu, melimpahnya pasokan pangan segar hasil panen dari wilayah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi ikut mengamankan ketersediaan stok pasar tradisional Penajam.
Meski demikian, PPU tetap menghadapi tekanan inflasi lateral pada kelompok transportasi sebesar 0,07 persen (mtm).
Komoditas pendorong inflasi utama di kawasan ini meliputi beras, buncis, solar, sawi hijau, serta sigaret kretek mesin.
Terbatasnya pasokan sayur-mayur akibat belum masuknya jadwal panen lokal di tengah tingginya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha menjadi pemicu utama fluktuasi harga horizontal tersebut.
Tantangan stabilitas harga komoditas pada paruh kedua tahun 2026 diprediksi akan semakin kompleks.
Peta risiko menunjukkan adanya ancaman kekeringan akibat masuknya musim kemarau yang merambat secara bertahap mulai Juni 2026 di Kabupaten Paser, kemudian meluas ke Penajam Paser Utara dan Balikpapan pada Juli 2026.
Kondisi kemarau yang melanda Pulau Jawa sejak awal triwulan kedua juga berisiko mengganggu volume pasokan pangan yang dikirim ke Kalimantan Timur.
Di sisi lain, akselerasi proyek infrastruktur sipil dan masifnya operasional Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di kawasan IKN terus memicu pertumbuhan jumlah penduduk baru secara eksponensial.
Lonjakan jumlah konsumen ini secara otomatis meningkatkan kuantitas permintaan bahan pangan pokok di pasar domestik.
"Diperlukan mitigasi strategis yang konsisten untuk mengantisipasi potensi defisit pasokan akibat siklus cuaca kering dan lonjakan permintaan struktural dari kawasan otoritas baru," tegas Robi.
Sebagai langkah antisipasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) gabungan tiga wilayah (Balikpapan, PPU, dan Paser) mengaktifkan skema intervensi pasar jangka pendek melalui pemanfaatan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk memotong rantai distribusi logistik.
Hingga akhir Mei 2026, realisasi operasi pasar murah telah dieksekusi sebanyak 11 kali di Balikpapan, 6 kali di PPU, dan 4 kali di Kabupaten Paser.
Langkah taktis ke depan diwujudkan melalui perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan wilayah produsen di luar pulau, percepatan jadwal tanam komoditas hortikultura lokal, serta optimalisasi lahan pekarangan rumah tangga lewat program urban farming.
Sinergi kebijakan moneter ini diintegrasikan ke dalam peta jalan Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) periode 2025–2027 demi membentengi daya beli masyarakat dari guncangan ekonomi makro.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang