Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dewan Guru Besar UI Kaji Implementasi Ekosistem Darat di IKN

Kompas.com, 2 Desember 2024, 20:29 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Implementasi ekosistem darat di Ibu Kota Nusantara (IKN) merupakan langkah penting untuk menuju kondisi harmoni antara pembangunan dan pelestarian alam.

Pendekatan ini selaras dengan tujuan global, Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-15, yakni melindungi, memulihkan, dan mendukung keberlanjutan ekosistem darat.

Ketua DGB UI Harkristuti Harkrisnowo menuturkan, pembangunan IKN di Kalimantan Timur berupaya mengintegrasikan konsep keberkelanjutan dengan melestarikan ekosistem darat.

Pembangunan ini juga menawarkan penerapan praktik berkelanjutan yang memperhatikan ekosistem lokal dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Baca juga: Dibuka 2025, Masjid Negara IKN Punya Daya Tampung 50.000 Jemaah

"Untuk itu, integrasi nilai-nilai budaya masyarakat dalam proyek pembangunan penting dilakukan untuk memastikan bahwa solusi yang diterapkan bersifat inklusif, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi semua pihak,” tutur Harkristuti dalam keterangan yang dikutip Kompas.com, Senin (2/12/2024).

Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN Mohammed Ali BErawi menambahkan, dari seluruh total area IKN, luas daratan mencapai 252.660 hektar.

Area ini nantinya akan dikembangkan menjadi tiga kawasan, yakni kawasan hijau dan produksi pangan (10 persen), area perkotaan (25 persen), serta hutan tropis melalui proses reforestasi (65 persen).

Pengembangan kota ini akan dilaksanakan berdasarkan lima prinsip utama, yakni hijau, berketahanan, berkelanjutan, inklusif, dan cerdas.

Ale menegaskan, IKN harus menjadi kota yang hijau, berketahanan, dan berkelanjutan. Disebut hijau karena 75 persen area digunakan untuk hutan dan kawasan hijau.

Baca juga: Telan Anggaran Rp 940 Miliar, Masjid Negara IKN Topping Off Bulan Ini

Sementara, berketahanan artinya kota ini dibangun dengan konsep sponge city, yakni perencanaan perkotaan yang berkelanjutan untuk mengelola air hujan secara efektif.

"IKN juga merupakan kota inklusif dan modern. Kami melibatkan the large scales investor sampai pemberdayaan UMKM, dan memberikan pelatihan teknologi bagi para ibu dan difabel,” imbuh Ale.

Isu Lingkungan

Terkait isu lingkungan, Guru Besar Biologi Konservasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI Jatna Supriatna menyebut, pembangunan IKN membutuhkan kolaborasi berbagai bidang keilmuan untuk menghasilkan skenario perencanaan tata ruang yang tepat.

Hal ini karena IKN dibangun di Pulau Kalimantan yang memiliki area hutan yang luas dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Berbagai spesies hewan hidup di hutan tersebut, bahkan spesies yang hampir punah.

Oleh karena itu, Jatna menyarankan dibangunnya koridor satwa liar sebagai alternatif dalam mengelola spesies dengan kawasan jelajah yang luas.

“Koridor dibangun agar spesies-spesies dapat bergerak leluasa sehingga tidak mengalami stres. Dengan adanya koridor ini, populasi-populasi hewan yang terpisah karena fragmentasi habitat di kota dapat terhubung kembali,” papar Jatna.

Baca juga: Insentif PPh 0 Persen Buat UMKM di IKN Berlaku hingga 2035

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau