Pendekatan ini selaras dengan tujuan global, Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-15, yakni melindungi, memulihkan, dan mendukung keberlanjutan ekosistem darat.
Ketua DGB UI Harkristuti Harkrisnowo menuturkan, pembangunan IKN di Kalimantan Timur berupaya mengintegrasikan konsep keberkelanjutan dengan melestarikan ekosistem darat.
Pembangunan ini juga menawarkan penerapan praktik berkelanjutan yang memperhatikan ekosistem lokal dan kesejahteraan masyarakat setempat.
"Untuk itu, integrasi nilai-nilai budaya masyarakat dalam proyek pembangunan penting dilakukan untuk memastikan bahwa solusi yang diterapkan bersifat inklusif, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi semua pihak,” tutur Harkristuti dalam keterangan yang dikutip Kompas.com, Senin (2/12/2024).
Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN Mohammed Ali BErawi menambahkan, dari seluruh total area IKN, luas daratan mencapai 252.660 hektar.
Area ini nantinya akan dikembangkan menjadi tiga kawasan, yakni kawasan hijau dan produksi pangan (10 persen), area perkotaan (25 persen), serta hutan tropis melalui proses reforestasi (65 persen).
Pengembangan kota ini akan dilaksanakan berdasarkan lima prinsip utama, yakni hijau, berketahanan, berkelanjutan, inklusif, dan cerdas.
Ale menegaskan, IKN harus menjadi kota yang hijau, berketahanan, dan berkelanjutan. Disebut hijau karena 75 persen area digunakan untuk hutan dan kawasan hijau.
Sementara, berketahanan artinya kota ini dibangun dengan konsep sponge city, yakni perencanaan perkotaan yang berkelanjutan untuk mengelola air hujan secara efektif.
"IKN juga merupakan kota inklusif dan modern. Kami melibatkan the large scales investor sampai pemberdayaan UMKM, dan memberikan pelatihan teknologi bagi para ibu dan difabel,” imbuh Ale.
Isu Lingkungan
Terkait isu lingkungan, Guru Besar Biologi Konservasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI Jatna Supriatna menyebut, pembangunan IKN membutuhkan kolaborasi berbagai bidang keilmuan untuk menghasilkan skenario perencanaan tata ruang yang tepat.
Hal ini karena IKN dibangun di Pulau Kalimantan yang memiliki area hutan yang luas dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Berbagai spesies hewan hidup di hutan tersebut, bahkan spesies yang hampir punah.
Oleh karena itu, Jatna menyarankan dibangunnya koridor satwa liar sebagai alternatif dalam mengelola spesies dengan kawasan jelajah yang luas.
“Koridor dibangun agar spesies-spesies dapat bergerak leluasa sehingga tidak mengalami stres. Dengan adanya koridor ini, populasi-populasi hewan yang terpisah karena fragmentasi habitat di kota dapat terhubung kembali,” papar Jatna.
Sejalan dengan Jatna, Country Director at Wildlife Conservation Society (WCS) Noviar Andayani menekankan pentingnya pembangunan koridor sebagai upaya untuk membatasi terbukanya antarmuka manusia dengan satwa.
Ia pun merekomendasikan konsep One Health yang dapat mengidentifikasi di mana dan bagaimana risiko kesehatan dapat muncul.
Hal ini sebagai respons strategis untuk membangun narasi bagi masyarakat yang hidup di sekitar hutan atau kawasan konservasi tentang pentingnya menjaga lingkungan dan ekosistem yang sehat bagi keberlanjutan ekonomi, sosial, budaya, dan kesehatan.
Sebanyak 60,3 persen penyakit infeksius merupakan zoonosis dan penularannya dipicu oleh semakin terbukanya antarmuka manusia dengan satwa.
Karena itu, Noviar berharap pendekatan atau frame work one health bisa menjadi salah satu acuan dalam membangun infrastruktur, baik infrastruktur fisik, sosial, ekonomi, maupun budaya untuk IKN.
"Pembangunan koridor dapat menjadi strategi untuk memastikan agar pembangunan infrastruktur IKN tetap memperhatikan biodiversitas,” tuntas Noviar.
https://ikn.kompas.com/read/2024/12/02/202929487/dewan-guru-besar-ui-kaji-implementasi-ekosistem-darat-di-ikn