Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Demi IKN Bebas Kumuh dan Bau, PSEL Regional Dibangun

Kompas.com, 10 April 2026, 20:19 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Pemerintah resmi memulai langkah radikal untuk menghapus stigma kumuh dan bau sampah di gerbang Ibu Kota Nusantara (IKN).

Melalui penandatanganan Kesepakatan Bersama penyelenggaraan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) wilayah Samarinda Raya dan Balikpapan Raya, Jumat (10/04/2026), kolaborasi lintas daerah ini diproyeksikan menjadi solusi permanen krisis limbah perkotaan di Kalimantan Timur.

Baca juga: WIKA Masih Lanjut Garap Proyek Kementerian PU di IKN

Langkah ini menyatukan Otorita IKN, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kota Balikpapan, hingga Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam satu sistem pengelolaan regional yang terintegrasi.

Kehadiran Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa proyek ini merupakan prioritas nasional.

Indonesia Bersih dalam Tiga Tahun

Proyek PSEL ini merupakan respons cepat terhadap visi besar Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan penuntasan masalah sampah di seluruh penjuru tanah air secara kilat.

Dalam taklimat rapat kerja Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan dua hari sebelumnya, Presiden memberikan tenggat waktu yang ketat bagi jajarannya.

Baca juga: Jadi Magnet Wisata, IKN Dikunjungi 59.676 Orang Saat Libur Paskah

“Dalam waktu dua sampai tiga tahun, sampah seluruh Indonesia akan kita selesaikan. Tidak akan ada kota, jalan, tidak akan ada bagian Indonesia yang bau karena sampah dari Sabang sampai Merauke,” tegas Prabowo.

Sikap tegas ini menempatkan proyek pengolahan sampah berbasis energi (waste-to-energy) di Kalimantan Timur sebagai pilot proyek yang akan dipantau ketat keberhasilannya.

Transformasi Limbah Menjadi Energi Terbarukan

Wilayah delineasi IKN yang mencakup Muara Jawa, Samboja, dan Samboja Barat selama ini menghadapi tantangan peningkatan volume sampah seiring masifnya pembangunan.

Pengelolaan konvensional dianggap tidak lagi memadai untuk mendukung standar kota berkelanjutan.

Sekretaris Otorita IKN, Bimo Adi Nursanthyasto, menekankan bahwa PSEL merupakan titik balik dalam mengubah beban lingkungan menjadi aset ekonomi berupa energi.

Baca juga: Intip Pasar Segar Sepaku IKN, Modern Bebas Kumuh dan Becek

“PSEL ini menjadi solusi konkret untuk mempercepat penanganan sampah perkotaan sekaligus menjawab kebutuhan energi berkelanjutan di Kalimantan Timur. Bagi IKN, ini adalah game changer,” ujar Bimo.

Ia meyakini bahwa sistem pengelolaan sampah regional adalah jalur tunggal yang harus ditempuh untuk menciptakan wilayah yang benar-benar bersih.

Kolaborasi lintas daerah menjadi kunci agar masalah sampah tidak hanya berpindah lokasi, tetapi tuntas di fasilitas pengolahan.

Menuju Standar Kota Dunia

Pengembangan PSEL Samarinda dan Balikpapan Raya diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam penyediaan solusi energi bersih.

Baca juga: Tembus 352.000 Pengunjung dalam 12 Hari, IKN Jadi Magnet Wisata Baru

Dengan teknologi ramah lingkungan, timbulan sampah yang selama ini menumpuk di TPA akan dikonversi menjadi energi listrik yang dapat menyuplai kebutuhan masyarakat sekitar.

Jika proyek ini berjalan sesuai jadwal, Kalimantan Timur akan memiliki sistem pengelolaan sampah regional paling modern di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau