Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Tanah Termahal di Ring 1 IKN Cuma Rp 800.000 Per Meter Persegi

Kompas.com, 21 Mei 2025, 16:06 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Isu harga tanah di Ibu Kota Nusantara (IKN) selalu menjadi topik hangat yang menarik perhatian investor dan publik.

Setelah berbagai spekulasi, kini sedikit demi sedikit gambaran yang lebih jelas mulai terungkap langsung dari petinga Otorita IKN.

Meskipun gedung-gedung Tahap I telah terbangun dan berdiri megah, harga tanah di IKN ternyata bervariasi signifikan, menawarkan peluang menarik bagi berbagai skala investasi.

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengungkapkan, harga tanah di Ring 1 IKN atau  Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), memiliki rentang yang cukup lebar.

Baca juga: Kata Investor, Timeline Proyek-proyek di IKN Harus Realistis

Tanah yang dinilai oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) bahkan sejak masa masih berupa Hutan Tanaman Industri (HTI) dan belum ada pembangunan, menunjukkan variasi yang menarik.

"Ada harga yang di sana Rp 800.000 dekat Rumah Sakit Hermina itu. Tapi di dalam-dalam ini, maksud dalam walaupun dekat istana. Ini ada yang Rp 400.000, ada yang Rp 200.000, ada yang Rp 100.000 per meter persegi," ungkap Basuki, Jumat (16/5/2025).

Ini berarti, di lokasi strategis sekalipun, termasuk yang berdekatan dengan Istana Negara, harga tanah per meter perseginya bisa dimulai dari Rp 100.000 hingga Rp 800.000 per meter persegi.

Angka ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan harga tanah di pusat kota-kota besar Indonesia, seperti Jakarta yang bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta Rupiah per meter.

Baca juga: Pengembang Minat Investasi di IKN, Tunggu Pemindahan ASN

Seperti di Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta yang berkisar antara Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per meter persegi.

Sementara di kota-kota mitra IKN seperti Balikpapan, harga tanah sudah menembus angka sekitar Rp 1 juta per meter persegi.

Keragaman harga ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor yang ingin berpartisipasi dalam pembangunan IKN.

Lebih dari sekadar angka, pemerintah dan Otorita IKN secara terbuka mengakui bahwa mereka membutuhkan kolaborasi aktif dari pihak swasta, terutama pengembang properti.

Baca juga: Rusun ASN di IKN Hampir Rampung 100 Persen

"Kami menyadari sepenuhnya bahwa membangun kota baru bukan sekadar membangun infrastruktur fisik, tapi membangun kehidupan dan masa depan," imbue Basuki.

Untuk itu, Basuki sekali lagi mengajak para investor dan pengembang sebagai mitra strategis untuk berpartisipasi aktif dan berkolaborasi dalam pembangunan ibu kota.

"Jujur kami tidak berpengalaman walaupun di 45 tahun membangun infrastruktur, tapi tidak berpengalaman dalam pembangunan kota," cetus Basuki.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau