Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

BI Kawal Ketat Inflasi PPU dan Balikpapan Jelang Puasa, Ini Strateginya

Angka ini lebih rendah apabila dibandingkan dengan bulan Januari yang sebesar 0,77 persen. Sementara secara tahunan, inflasi IHK Kabupaten PPU tercatat sebesar 3,71 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional 2,75 persen dan inflasi gabungan empat kota di Provinsi Kalimantan Timur (3,28 persen).

Sementara IHK Kota Balikpapan pada bulan Februari 2024 mengalami inflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan.

Capain tersebut lebih rendah dibandingkan bulan Januari 2024 yang mengalami inflasi sebesar 0,10 persen. Sementara secara tahunan, inflasi IHK Kota Balikpapan tercatat sebesar 3,22 persen.

Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Provinsi Kalimantan Timur (3,28 persen) namun lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional (2,75 persen).

Tingkat inflasi tahunan yang masih cukup tinggi tersebut disebabkan oleh pasokan bahan pangan yang mayoritas didatangkan dari luar Balikpapan.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena volatilitas harga pangan sangat dipengaruhi oleh dinamika harga di luar Balikpapan.

Untuk itu, upaya menciptakan kemandirian pangan menjadi agenda prioritas yang perlu disinergikan dengan semua pemangku kepentingan.

Adapun komoditas penyumbang inflasi tertinggi pada bulan Februari 2024 antara lain beras, angkutan udara, ikan layang, udang basah, dan sawi hijau.

Kenaikan harga beras disebabkan oleh bergesernya masa panen serta adanya kejadian banjir yang melanda daerah pemasok.

Sedangkan inflasi angkutan udara didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara oleh beberapa maskapai khususnya low-cost carrier sejalan dengan kenaikan permintaan ditengah mobilitas masyarakat yang meningkat.

Adapun kenaikan harga ikan layang berkaitan dengan hasil ikan tangkap yang menurun. Sementara kenaikan sawi hijau disebabkan oleh curah hujan yang tinggi sehingga menurunkan produksi.

Kendati demikian, Kepala Kantor Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi mengajak semua pihak bersyukur, laju inflasi di Kota Balikpapan tertahan oleh beberapa komoditas yang mengalami deflasi antara lain daging ayam ras, tomat, bawang merah, bayam, dan minyak goreng.

Ke depan hal ini harus terus diwaspadai. Terutama masih tingginya harga beberapa komoditas pangan khususnya beras dan cabai merah di tengah pasokan yang belum stabil.

"Potensi peningkatan demand untuk berbagai komoditas pangan dan jasa di Kota Balikpapan dan Kabupaten PPU juga patut dikawal ketat menjelang Hari besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2024," tutur Robi dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis (7/3/2024).

Strategi pengendalian inflasi

Potensi lainnya yang perlu dicermati adalah berlanjutnya peningkatan tarif angkutan udara khususnya low-cost carrier menjelang bulan puasa.

Selain itu, peningkatan curah hujan dan potensi bencana hidrometeorologi perlu diwaspadai karena dapat menjadi pemicu penurunan produksi pangan termasuk risiko bencana banjir di beberapa wilayah.

Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Balikpapan dan Kabupaten PPU terus bersinergi.

Antara lain melalui pelaksanaan high level meeting TPID Kota Balikpapan dan Kabupaten PPU, dan pelaksanaan capacity building mengenai teknik perhitungan inflasi tahun dasar 2022.

Kemudian pelaksanaan gelar pangan murah dan operasi pasar secara intensif, dan realisasi program Pemerintah Daerah untuk masyarakat terdampak inflasi.

"Ke depannya, Bank Indonesia akan senantiasa bersinergi dengan berbagai pihak untuk menjaga tingkat inflasi pada rentang target inflasi nasional tahun 2024 yaitu sebesar 2,5 persen hingga 1 persen," tuntas Robi.

Berdasarkan rilis inflasi BPS,

https://ikn.kompas.com/read/2024/03/08/070000587/bi-kawal-ketat-inflasi-ppu-dan-balikpapan-jelang-puasa-ini-strateginya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com