Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Mahalnya Tiket Pesawat akibat Aktivitas IKN Dorong Inflasi di Kaltim

Selain tingginya tiket pesawat, faktor lain yang menjadi penyebab inflasi adalah momen peringatan hari besar keagamaan serta kenaikan harga beras.

Kenaikan harga tiket pesawat sejumlah maskapai terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan pada momen libur imlek dan peringatan Isra Miraj.

Sementara itu kenaikan harga beras dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan sebagai dampak pergeseran masa panen.

Kenaikan harga beras menjadi komoditas penyumbang inflasi utama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 6,95 persen secara bulanan dan andil 0,10 persen secara bulanan.

Kepala Perwakilan BI Kaltim Budi Widihartanto mengatakan, selain pergeseran masa tanam, kenaikan harga beras juga terjadi akibat penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) Provinsi Kalitim yang sebelumnya lebih rendah dari Provinsi Kalimantan lainnya.

Ikan-ikanan juga menjadi penyumbang inflasi pada kelompok ini. Seperti ikan layang dan ikan tongkol mengalami kenaikan harga sebagai dampak gelombang tinggi.

"Di sisi lain, terdapat koreksi harga komoditas yang menahan laju inflasi yaitu daging ayam ras, tomat, bawang merah, cabai rawit, dan jagung manis," ujar Budi dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (8/3/2024).

Upaya pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) terus dilakukan untuk menjaga stabilitas inflasi di Provinsi Kaltim.

Hal ini dilakukan guna memastikan ketersediaan pasokan beras, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Samarinda telah melaksanakan pendistribusian Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).

Selain itu, BI Kaltim bersama Forkopimda Berau mendorong penguatan pasokan beras melalui pelaksanaan panen padi bersama di Berau.

Sedangkan untuk menjaga keterjangkauan harga, telah dilakukan operasi pasar beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Kota Samarinda.

Lebih lanjut, Budi menuturkan, penguatan komunikasi antar TPID di Provinsi Kaltim juga terus dilakukan melalui High Level Meeting di Kota Bontang dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Selain itu, pelaksanaan Rapat Koordinasi Wilayah TPID Kaltim dalam rangka penguatan inovasi Early Warning System untuk melacak inflasi daerah.

Ke depan, TPID Provinsi Kaltim akan terus berkolaborasi untuk menjaga stabilitas inflasi yang mengacu pada strategi Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi yang Efektif (4K).

"Inflasi yang terkendali diharapkan dapat menjadi momentum pertumbuhan ekonomi Kaltim menuju masyarakat yang lebih sejahtera," tuntas Budi.

https://ikn.kompas.com/read/2024/03/10/070000587/mahalnya-tiket-pesawat-akibat-aktivitas-ikn-dorong-inflasi-di-kaltim

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com