Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Melalui WWF 2024, Pemerintah Bidik Investor Pembangunan Air di IKN

Ini merupakan perhelatan akbar yang diharapkan dapat meraup 30.000 peserta dari 172 negara. 

Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Teknologi, Industri dan Lingkungan Endra S Atmawidjaja mengatakan, Indonesia akan memberi pengaruh besar terhadap arah kebijakan di bidang air ini.

"Dan sejak awal pada berbagai forum dunia, Indonesia memang konsisten mendorong persoalan air untuk dibahas di level tertinggi. Harus ada dorongan kuat dari para pengambil kebijakan,” ujar Endra, menjawab Kompas.com, Rabu (17/4/2024).

Pada pertemuan ini pula Indonesia akan mengidentifikasi negara yang tertarik memberikan komitmen untuk berinvestasi.

Terutama dalam penyediaan dan pengelolaan air bersih, dan air minum Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.

"Untuk investasi yang masuk, kami akan identifikasi negara yang memiliki kemampuan teknis mengelola air, dan negara yang berkomitmen memberikan investasinya. Seperti Korea, Jepang Swedia, lembaga pendanaan global macam World Bank, Asian Development Bank (ADB), dan multilateral agencies, tentu itu akan kami rekapitulasi," papar endra.

Sementara, sejauh ini Korea telah berpartisipasi di IKN. Mereka memberikan dukungan bersama dengan Finlandia, dan Uni Emirat Arab (UEA) yang memiliki ketertarikan berinvestasi di IKN.

Bendungan hingga Tahun 2100

Adapun Kementerian PUPR saat ini terus menggeber pembangunan sejumlah infrastruktur, termasuk bendungan.

Pembangunan bendungan sebagai pemasok kebutuhan air di IKN sudah direncanakan hingga tahun 2100.

Terdapat Bendungan Sepaku Semoi yang memasok air di IKN yang juga didukung oleh kehadiran Intake Sepaku berkapasitas 3.000 liter per detik. 

Sehingga, total kebutuhan pasokan air baku di IKN dengan adanya Bendungan Sepaku Semoi dan Intake Sepaku bisa mencapai 5.000 liter per detik pada tahun 2035.

Sebelum tahun 2035 atau tepatnya 2033, Kementerian PUPR juga akan membangun Bendungan Batu Lepek yang bertahan hingga 2045.

Sementara pada tahun 2042, akan dibangun bendungan ketiga yakni Selamayu yang bertahan hingga tahun 2060.

Kemudian tahun 2058 akan kembali dibangun satu bendungan lagi yakni, Sifak.

Selain membangun bendungan maupun intake, Kementerian PUPR juga membangun embung. Setidaknya, hingga akhir tahun 2024 nanti, akan ada 19 embung selesai dikerjakan.

Bahkan, ditambah dua embung lagi yang melayani kebutuhan air di Bandara VVIP IKN maupun di Pemaluan.

https://ikn.kompas.com/read/2024/04/17/115243287/melalui-wwf-2024-pemerintah-bidik-investor-pembangunan-air-di-ikn

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com