Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

IKN Terkini, Tower Crane Lincah Menari, Lampu Proyek Gemerlap di Malam Hari

Proyek jumbo ini tengah dikebut Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Tak kurang dari 90 paket terkontrak dengan nilai sekitar Rp 70 triliun sedang dikerjakan secara simultan.

Sebagaimana yang dikemukakan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono selaku komandan dari proyek strategis nasional (PSN) ini.

Siang hari, kendati penuh debu, panas terik menyengat membakar kulit, area pembangunan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) ibarat orkestrasi beragam "peralatan musik", yang mengeluarkan nada dan suara berbeda namun menggema harmonis.

Ditingkahi lagu "Shalawat" dari Maher Zein, terkadang lagu reliji lainnya dari artis Opick, atau grup nasid populer Sabyan dengan volume kencang dari pelantang suara.

Pada malam hari, gerak tower-tower crane ini terlihat lebih menarik karena sistem pencahayaan (lighting) yang menyertainya memendarkan warna beraneka.

Kadang biru, lain waktu hijau, oranye, bahkan berkali-kali ungu dan kuning. Mencerminkan filosofi dari konsep pengembangan IKN yang merepresentasikan ketunggalan dari kebhinekaan.

Mari kita kupas satu per satu infrastruktur Batch I, khususnya di Kawasan Istana Presiden, di area KIPP, yang secara visual terkoneksi satu sama lain melalui Sumbu Kebangsaan.

Kemudian arsitektural, penataan interior, mekanikal, elektrikal, plumbing (MEP), penataan kawasan, dan lanskap.

Tampak sejumlah tower crane bergerak ke sana ke mari mengangkat bilah-bilah yang terbuat dari baja anti-karat dilatarbelakangi semburat lembayung senja Bumi Banua.

Kantor Presiden dengan nilai kontrak pekerjaan Rp 1,56 triliun, ini merupakan tempat Kepala Negara Republik Indonesia dan Ibu Negara bekerja.

Kemegahan yang ditampilkan pada bangunan Kantor Presiden ini tecermin pada penataan interior, khususnya lobby utama yang berfungsi sebagai ruangan pertama saat kaki menginjakkan gedung ini.

Desain bangunan dibuat bertingkat untuk menyesuaikan topografi yang ada.

Sedangkan perkembangan terbaru Istana Negara yang merupakan tempat Presiden Republik Indonesia menerima tamu-tamu kenegaraan, sudah mencapai progres 67 persen.

Saat ini tengah memasuki tahap arsitektural, penataan interior, mekanilak, elektrikal, plumbing (MEP), penataan lanskap, penataan jalan, termasuk Multi Utility Tunnel (MUT), dan jembatan.

Konsep keseimbangan bukan hanya pada tampilan bangunan namun juga secara keseluruhan kawasan.

Dua infrastruktur dasar ini, secara visual merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Karena Istana Negara, secara bentuk merupakan refleksi dari Burung Garuda yang notabene merupakan "ruh" dari Kantor Presiden yang berada di area dengan elevasi lebih tinggi.

"Rumput-rumput ini sudah kita siapkan semua. Demikian halnya dengan bendera, akan segera dipasang. Jadi semuanya, untuk prasarana pelaksanaan upcara 17 Agustusan, insya Allah selesai pada bulan Juni 2024," imbuh Basuki.

Lapangan Upacara dirancang dengan kapasitas tampung sekitar 8.000 orang. Oleh karena itu, penyelenggara upacara HUT ke-79 Kemerdekaan RI yakni Menteri Sekretaris Negara dan Kepala Sekretariat Presiden harus mempertimbangkan kesiapan pelaksanaannya.

Antara lain empat Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) yang mecakup Kantor Kemenko 1, 2, 3, dan 4 yang berada di area Sumbu Kebangsaan.

Kantor Kemenko dirancang sejumlah 16 tower. Rinciannya, masing-masing Kantor Kemenko memiliki 4 tower, dan setiap 1 tower dihuni oleh dua kementerian. Jadi, dalam satu kompleks kemenko terdapat delapan kementerian.

Kantor Kemenko 1 atau Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) digarap PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk atau WEGE dengan nilai kontrak Rp 745 miliar.

Sedangkan proyek Kemenko 3 atau Kemenko Bidang Politik, Hukum, dan HAM, serta Kemenko 4 atau Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan digarap PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Adapun nilai kontrak Kantor Kemenko 3 sebesar Rp 789 miliar, sementara Kantor Kemenko 4 senilai Rp 735 miliar.

Dengan demikian, total nilai konstruksi dari empat proyek kantor Kemenko di IKN ini mencapai angka Rp 3,035 triliun.

Warna-warna tanah (bumi) atau earth tone kuat menguar di area ini dari berbagai elemen kayu solid, besi motif kayu, jalur pedestrian yang lebar, railing jembatan bersepuh coklat, pohon-pohon dan vegetasi yang sudah ditanam dan mulai bermekaran, street furniture tahan cuaca, serta guiding block berwarna kuning adalah kekinian area yang bisa diakses publik ini.

Dari sini, kita bisa memandang Kawasan Istana Presiden dengan Kantor Presiden dan Istana Negara menjulang masing-masing 83,50 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan 40,50 mdpl dengan megah dalam semangat penyelesaian menyambut terciptanya sejarah baru Indonesia masa depan.

https://ikn.kompas.com/read/2024/05/17/083628987/ikn-terkini-tower-crane-lincah-menari-lampu-proyek-gemerlap-di-malam-hari

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com