Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Menanti 100 Dokumen Ilmiah Kebijakan Hutan Kota IKN

ICFC menjadi konferensi internasional pertama mengenai kajian memulihkan keanekaragaman hayati hutan tropis dan biokultural di kawasan perkotaan dan sekitarnya.

Perhelatan ini diharapkan mampu menghasilkan lebih dari 100 dokumen ilmiah mengenai biodiversitas, pelestarian lingkungan hidup, dan kebijakan hutan kota di IKN.

Hal ini karena para peserta yang hadir sebanyak 170 orang termasuk pembicara akademisi dan praktisi lingkungan. Mereka berasal dari 12 negara di lima benua.

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN Myrna Asnawati Safitri menekankan peran aktor-aktor non negara untuk berkontribusi dalam pembangunan IKN yang menjadi kota hutan modern.

“Setiap peserta dan pembicara diharapkan membawa materi-materi dan penelitian yang bisa didiskusikan bersama dan secara langsung turut berkontribusi membangun Nusantara menjadi kota yang berkelanjutan, hijau, dan modern,” kata Myrna.

ICFC pertama membawa tema “Restoring Tropical Forest and Bicultural Diversity in Urban and Peri-Urban Areas”.

Dilanjutkan dengan seminar mengenai “Biodiversity Protection in Urban Landscape” yang diisii oleh Myrna, Profesor Paul Kessler dari Leiden University, Dr. Hendrian dari BRIN, Profesor Satyawan Pudyatmoko dari KLHK RI, dan Dushko Bogunivich dari University of Auckland.

Berlanjut pada hari kedua ICFC (30/05/2024), konferensi dimulai dengan kuliah umum yang bertemakan “BiodiverCity: Designing Urban Environments with Nature and for People” di Universitas Mulawarman Hub.

Pembicara Joris van Etten dari ADB, Profesor Steffen Nijhuis dari Universitas Teknologi Delft, Deputi Bidang Perencanaan dan Pertanahan Otorita IKN Mia Amalia, dan Profesor Wiwandari Handayani dari Universitas Diponegoro.

Pada hari kedua juga diisi seminar yang membahas mengenai “Sustainable Forest City: Towards a collaborative and interdisciplinary research agenda” yang diisi oleh Marrik Bellen dari Leiden University, Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN Profesor Mohammed Ali Berawi, Profesor Steffen Nijhuis dari Universitas Teknologi Delft, dan Profesor Rudianto Amira Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman.

Konferensi ICFC ditutup dengan pembahasan sesi panel dengan 8 bahasan berbeda dan saling mendalami tiap kajian yang dibawa.

Wakil Rektor Sukartiningsih menyebut peran dari Universitas Mulawarman sebagai katalis kajian kajian kehutanan terlebih pada peran kota hutan dalam pembangunan kota modern dan berkelanjutan seperti Nusantara.

Harapannya acara ini dapat menjadi pondasi awal untuk menjadikan Kalimantan Timur terlebih di wilayah IKN untuk menjadi pusat penelitian hutan tropis global, mengembalikan marwah Kalimantan sebagai paru-paru dunia dengan merevitalisasikan dan mengglorifikasikanya.

https://ikn.kompas.com/read/2024/05/30/093911587/menanti-100-dokumen-ilmiah-kebijakan-hutan-kota-ikn

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com