Deputi Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN (OIKN) Mohammed Ali Berawi memastikan hal itu kepada Kompas.com.
Ale menjelaskan, uji coba ini dilakukan untuk melihat kehandalan teknologi dan berbagai hal yang dapat dikembangkan bersama.
Harapannya, Indonesia akan menjadi salah satu pionir pengembangan teknologi transportasi udara sky taxi. Tidak hanya sebagai pasar, Indonesia bisa juga menjadi salah satu pengembang teknologi.
Kerjasama OIKN yang juga telah melibatkan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), lembaga riset dan perguruan tinggi bersama dengan Hyundai Motors Company dan Korea Aerospace Research Institute (KARI) kali ini diharapkan dapat menghasilkan berbagai kemajuan.
Seperti kebijakan dan regulasi pemanfaatan dan manajemen lalu lintas ruang udara, peningkatan keamanan, pengembangan teknologi, dan peningkatan kelayakan bisnis.
"Tentunya utk PoC ini kami terus berkoordinasi dengan Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, dan Bandara APT Pranoto," urai Ale.
Ale mengeklaim, koordinasi yang sudah dilakukan terkait checklist review sertifikasi dan penggunaan ruang udara.
Rinciannya, koordinasi menyangkut sertifikasi, konektivitas jaringan, dan ruang udara bersama lintas direktorat di Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), OIKN, Airnav Indonesia, dan UPT Bandara APT Pranoto.
Kemudian surat rekomendasi jaringan yang diterbitkan oleh Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Samarinda.
Selanjutnya koordinasi terkait security clearance dengan TNI-AU dan Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI).
Hal ini sekaligus merespons pernyataan tegas Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Sigit Hani Hadiyanto, bahwa uji coba taksi terbang tidak boleh mengganggu ruang udara penerbangan komersial.
"Sebab secara prinsip aturan di Kemenhub, taksi terbang ini masuk ke dalam jenis wahana udara tidak berawak atau urban air mobility (UAM) sehingga ruang udaranya harus terpisah dari pesawat udara berawak," ucap Sigit.
Disosialisasikan kepada publik
Ali menekankan, PoC bersifat uji coba terbang dan integrasi solusi mobility-as-a-service yang hasilnya akan disosialisasikan kepada publik khususnya pada upacara peringatan HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Untuk penerapan jangka panjang pada saatnya nanti masuk komersilisasi (tentunya setelah melewati uji coba, sertifikasi, peraturan tata udara, safety, dan sebagainya) akan terbang di ketinggian dengan rentang 400-500 meter (1500 ft).
Jadi, PoC ini menempatkan posisi Indonesia sebagai bagian dari pengembangan teknologi transportasi udara terbaru di dunia.
Hal ini mengingat Indonesia juga negara besar dengan berbagai pulau dan pegunungan yg membutuhan moda transportasi yang efektif dan efisien.
Selain itu, taksi terbang OIKN ini juga sedang berproses dan bertahap menuju komersialisasi yang memang membutuhkan waktu panjang.
Selain pengembangan perangkat kerasnya yakni armada taksi terbang, juga sarana dan prasarana, kebijakan dan regulasinya perlu dihasilkan baik sebagai moda transportasi yang integrasi dengan moda lain.
"Mohon doa dan dukungan masyarakat agar rencana ini dapat terealisasi sesuai harapan kita bersama," ucap Ale.
https://ikn.kompas.com/read/2024/07/09/215452987/tak-ganggu-penerbangan-komersial-uji-coba-sky-taxi-ikn-akhir-juli