Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Menhub Sebut Kereta Otonom Buatan China Jadi Feeder Tamu HUT RI di IKN

Trainset ART yang saat ini berada di Pelabuhan Kaltim Kariangau Terminal (KKT) Balikpapan, Kalimantan Timur, adalah ART yang akan mengaspal di IKN.

"Saya harapkan sebelum tanggal 5 Agustus, sudah dipindahkan ke IKN dan melakukan uji coba. Jadi, sebelum 17 Agustus sudah beroperasi," tutur Menhub.

Pada HUT ke-79 Kemerdekaan RI, trem ini berfungsi sebagai feeder atau armada pengumpan bagi para tamu undangan di area Sumbu Kebangsaan Sisi Barat dan Timur serta titik-titik kumpul lainnya. 

Masa uji coba ini tidak dikenakan tarif alias gratis, dengan dua unit rangkaian kereta masing-masing tiga gerbong.

Kereta ini akan berputar melalui Jalan Sumbu Kebangsaan sisi barat dan sisi timur di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, dengan waktu tunggu (headway) 5 menit.

Satu set ART terdiri dari dua gerbong, dengan total kapasitas penumpang sebanyak 324 orang.

Setelah uji coba ini, Menhub memastikan, ART akan disiapkan sebagai angkutan transportasi publik dengan skema buy the service (BTS) yang akan dimulai pada 2025 dengan pendanaan melalui APBN.

Menurutnya, dua pabrikan China CRRC memberikan komitmen kepada Indonesia untuk menggunakan ART ini sejak Agustus hingga Desember 2024 secara free for trial.

Untuk diketahui, terdapat dua kerjasama kereta otonom tanpa rel yang tengah diupayakan sebagai pendukung transportasi cerdas IKN.

Pertama adalah kerjasama antara Kementerian Perhubungan dengan CRRC Sifang dan kedua adalah kerjasama antara OIKN dengan CRRC Zhouzhou Institute Co. Ltd. & Norinco.

"Pada November atau Desember 2024, pemenang lelang akan ditetapkan oleh pemerintahan yang baru," cetus Budi Karya.

Budi Karya menjelaskan, secara khusus kereta ini punya keunggulan yakni tidak menggunakan rel, melainkan marka jalan.

Oleh karena itu, harga yang harus dibayar oleh pemerintah maupun konsumen akan jauh lebih rendah dibanding angutan transportasi massal berbasis rel.

"Skema BTS untuk ART ini juga diharapkan dapat diduplikasi di kota-kota lainnya di Indonesia seperti Bandung, Makassar, Medan, dan lain-lain karena tidak memerlukan rel dan sinyal. Cara kerja ART adalah dengan mengidentifikasi marka, jadi tidak perlu investasi besar," tutur Budi Karya.

Sementara kecepatan operasionalnya 50 kilometer per jam dan maksimal 80 kilometer per jam.

Adapun panjang jalur ART Fase I sekitar 1,2 kilometer, sedangkan panjang jalur Fase II adalah mencapai 5,2 kilometer.

Saat beroperasi nanti, jalur dan halte ART akan berbagi atau sharing lane dengan Bus Rapid Transit (BRT).

OIKN bersama Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Keuangan, Ditjen Bea Cukai, Kemenenterian Kominfo, dan Polri selama ini telah melakukan rapat rutin untuk memastikan dan mengevaluasi kelayakan teknis dan operasional serta dukungan fasilitas infrastruktur trem otonom yang diperlukan.

IKN sebagai global city for all merupakan testbed inovasi, di mana pengembangan dan pemanfaatan teknologi terbaru akan di lakukan bersama-sama dengan berbagai pihak.

"Semoga ini jadi salah satu moda modern yang dapat diimplementasikan di IKN setelah nanti dilakukan PoC," tuntas Tonny.

https://ikn.kompas.com/read/2024/07/31/101015887/menhub-sebut-kereta-otonom-buatan-china-jadi-feeder-tamu-hut-ri-di-ikn

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com