Pembangunan IMT ini akan direalisasikan di Ibu Kota Nusantara (IKN) dan merupakan bagian dari jaringan konektivitas Jalan Tol IKN Seksi 4A dan 4B.
Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Rachman Arief Dienaputra menuturkan, IMT IKN membutuhkan dana sekitar 736,34 juta dollar AS atau ekuivalen Rp 11,3 triliun.
Senilai 665 juta dollar AS atau setara Rp 10,2 triliun di antaranya direncanakan melalui APBN dengan memanfaatkan pinjaman luar negeri.
"Skema pembiayaannya direncanakan melalui APBN dengan memanfaatkan pinjaman luar negeri. Usulan pinjaman sebesar 665 juta dollar AS atau setara Rp 10,2 triliun," ungkap Rachman Arief kepada Kompas.com, Rabu (2/10/2024).
Tambahan biaya diperlukan untuk kebutuhan pembebasan lahan, restorasi mangrove, dan biaya administrasi lainnya yang tidak menjadi lingkup pekerjaan usulan yang didanai dengan pinjaman luar negeri.
Menurut Rachman Arief, sejatinya pembangunan IMT IKN telah diusulkan pembiayaannya melalui pinjaman luar negeri.
Saat ini telah masuk ke dalam Bluebook 2020-2024, dan telah diusulkan untuk masuk ke dalam Greenbook 2024.
Dengan asumsi proses persiapan pinjaman luar negeri dan lelang selama 1-2 tahun, maka perkiraan realisasi konstruksi akan dimulai pada 2026- 2027.
"Skema KPBU bisa dilaksanakan untuk pengelolaan jaringan konektivitas Jalan Tol IKN apabila seluruhnya selesai terbangun," imbuh Rachman Arief.
Sebagai informasi, secara kesuluruhan, total panjang jalan tol yang dibangun di IKN membentang 88,54 kilometer. Sejauh ini yang sudah terbangun mencapai 67,65 kilometer.
Konsep Desain IMT IKN
IMT IKN akan menghubungkan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dengan Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, yang akan melintasi Sungai Sepaku dengan panjang rencana 1,82 kilometer.
Strukturnya terdiri dari immerse section sepanjang 1,08 kilometer dan bangunan pendekat 0,74 kilometer yang mencakup cut and cover sepanjang 0,340 kilometer dan U-type 0,4 kilometer.
Konsep desain IMT IKN direncanakan menggunakan single box dengan total lebar penampang 40,8 meter yang terbagi menjadi dua chamber.
Chamber ini berfungsi sebagai jalur lalu lintas yang masing-masing meliputi 3 lajur 2 arah, dengan lebar 16,25 meter.
Masing-masing jalur dipisahkan oleh escape/service gallery, dengan kecepatan desain 100 kilometer per jam.
"Kemudian mengunakan rock protection cover untuk melindungi struktur IMT. Pada prinsipnya IMT IKN mengadopsi teknologi serupa yang juga telah diterapkan di Korea Selatan dan Turkiye," tutur Rachman Arief.
Kendati demikian, IMT IKN memiliki keistimewaan. Pertama adalah merupakan bagian dari jaringan akses yang dirancang untuk mendukung konektivitas dan mobilitas di IKN sebagai ibu kota baru, serta menunjang pertumbuhan ekonomi dan sosial di kawasan tersebut.
Keistimewaan kedua adalah dirancang dengan mengurangi risiko kerusakan lingkungan dan habitat satwa, menjaga alur pelayaran eksisting, mengurangi sedimentasi, dan peningkatan terhadap teknologi kontruksi serta OM Tunnel.
Selain itu, IMT IKN merupakan penerapan pertama teknologi konstruksi IMT di Indonesia.
Penerapan teknologi ini diharapkan dapat mendukung penerapan konstruksi berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan dalam pelaksanaannya.
Lebih jauh Rachman Arief mengatakan, pembangunan IMT akan berkolaborasi dengan tenaga ahli internasional sehingga diharapkan tercipta transfer of knowledge atau alih pengetahuan kepada para insinyur Indonesia.
Ada pun saat ini, proyek prestisius dan padat modal tersebut masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).
Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR M Zainal Fatah mengatakan hal itu saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (1/10/2024).
Menurut Zainal, untuk membangun terowongan bawah laut serta ibu kota negara baru, pemerintah belajar dari Korea Selatan.
"Intinya kita tidak mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukan mereka, makanya bisa lebih cepat," imbuh Zainal.
https://ikn.kompas.com/read/2024/10/03/131741487/butuh-rp-113-triliun-wujudkan-mimpi-indonesia-punya-tol-bawah-laut