Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Dukung Pertahanan Udara Cerdas IKN, Lanud Dhomber Bangun Rudal Jarak Menengah

Hal itu bukan tanpa alasan, karena ancaman udara merupakan tantangan tersulit dalam konteks pertahanan.

Selain itu, pertahanan udara juga menjadi isu besar terkait banyak konflik yang terjadi di dunia disebabkan karena adanya tekanan di wilayah udara.

Dari tiga konsep matra pertahanan, yaitu darat, laut, dan udara, yang paling sulit adalah menghadapi ancaman udara.

Karena memang sifat dari serangan ini adalah sangat cepat. Jika Indonesia bisa menghadapi serangan yang sangat cepat, maka dapat dipastikan bisa menghadapi serangan laut dan darat.

Komandan Lanud Dhomber Kolonel Penerbang Fata Patria menuturkan, pertahanan udara IKN dan sekitarnya akan menghadapi tantangan yang cukup besar ke depan ketika ibu kota baru itu sudah resmi beroperasi. 

Memang dalam konteks IKN, Lanud Dhomber hanya sebagai satuan pelaksana, sementara yang menetapkan kebijakan adalah Mabes TNI AU.

Namun, karena lanud yang terdekat dengan IKN adalah Lanud Dhomber, secara operasional maupun taktisnya akan membantu kebijakan Mabes TNI AU dalam menyiapkan pertahanan udara di IKN.

Oleh karena itu, Lanud Dhomber akan menyiapkan infrastruktur, personil, dan sumber daya lainnya, untuk bersama-sama mendukung dan mengimplementasikan smart air defense system.

"Peran kami sebagai Lanud pendukung, akan sangat penting mendukung IKN, dan kami berencana menempatkan beberapa pesawat untuk pertahanan udara di sana," ungkap Fata menjawab pertanyaan Kompas.com, di Mako Lanud Dhomber, Balikpapan, Senin (16/12/2024).

Kendati berfungsi hanya sebagai pendukung, namun Lanud Dhomber dipastikan akan menyiapkan segala sesuatunya sampai ada kebijakan lain yang mengharuskan secara langsung berada di garda depan pertahanan udara IKN.

Rencana Induk Pertahanan Udara

Adapun smart air defense system IKN tertuang dalam sistem pertahanan negara (Sishanneg) melalui Keputusan Menteri Pertahanan Nomor 1746/M/XII/2023.

Dalam keputusan tersebut, rencana Sishanneg diarahkan dapat memadukan kekuatan militer dan nirmiliter yang smart, kuat, tangguh memiliki daya tangkal dan tindak tinggi. Hal ini agar mampu melindungi ibu kota negara dari berbagai macam ancaman.

Rencana ini juga menunjukkan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi untuk pertahanan nasional, menggabungkan elemen-elemen tradisional pertahanan dengan teknologi dan diplomasi modern.

Dengan demikian, dapat memperkuat kemampuan pertahanan Indonesia dan memperkuat posisinya di tingkat internasional. 

"Nah, di sini kami sebagai pelaksana operasional di Balikpapan yang terdekat dengan IKN, kami mencoba menyiapkan dari sisi udaranya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan," imbuh Fata.

Diharapkan, nanti pada saat IKN sudah mulai dioperasionalkan, pertahanan dari sisi udara sudah bisa diandalkan.

Kendati demikian, Fata menegaskan, pembangunan sistem pertahanan udara tidak hanya Lanud Dhomber, melainkan keseluruhan.

Seperti di Banjarmasin melalui pembangunan dari sisi mata (radar) baru, dan penggantian radar di Tarakan, serta beberapa wilayah lainnya.

"Jadi, yang sementara kami bangun adalah kemampuan radar. Ke depan kami juga akan mencoba menempatkan peluru kendali (rudal) jarak menengah di sekitar IKN," cetus Fata.

Saat ini, lini masa (timeline) pengadaan radar dan rudal sedang dalam proses di Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

Meskipun smart air defense system dirancang untuk melindungi IKN, konsep tersebut bisa dikembangkan untuk seluruh Indonesia.

https://ikn.kompas.com/read/2024/12/16/134239887/dukung-pertahanan-udara-cerdas-ikn-lanud-dhomber-bangun-rudal-jarak-menengah

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com