Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Pabrik Detonator Resmi Beroperasi di Kaltim, Kurangi Impor Tiga Negara

TDMB, anak perusahaan dari PT Trifita Perkasa yang telah berdiri sejak tahun 2000, bergerak di bidang jasa pengadaan dan distribusi bahan peledak komersial untuk kegiatan pertambangan dan konstruksi.

Kehadiran TDMB yang mampu memproduksi detonator low explosive sendiri, diklaim dapat mendorong pertumbuhan perekonomian di Kaltim dan Indonesia pada umumnya.

Pabrik detonator ini berdiri di atas lahan seluas 24 hektar, di mana 5 hektar digunakan untuk bangunan dan sisanya untuk menjaga jarak aman serta area pengembangan masa depan.

TDMB mengantongi Rekomendasi Pembangunan Pabrik pada tahun 2019, Izin Mendirikan Pabrik pada 2021, dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) pada tahun yang sama.

Setelah pembangunan pabrik selesai, Kementerian Pertahanan menyetujui izin produksi pada tahun 2024, dan sejak akhir Oktober lalu, TDMB resmi berproduksi.

Selama tiga bulan beroperasi, TDMB telah memproduksi lebih dari 700.000 detonator, dan setengahnya langsung diserap oleh industri pertambangan di Kalimantan.

Dipilihnya Muara Badak sebagai lokasi pabrik TDMB bertujuan untuk memudahkan pendistribusian hasil produksi kepada pengguna akhir, yaitu industri pertambangan yang sebagian besar berada di Kalimantan, NTB, Sulawesi, hingga Papua. Selain itu, lokasi ini juga dipilih karena tidak padat penduduk.

Pada tahap pertama, TDMB memiliki kapasitas produksi hingga 4,1 juta detonator per tahun. Dengan menggunakan bangunan yang ada, pabrik ini dapat meningkatkan produksinya hingga 6 juta buah detonator per tahun.

Dengan demikian dapat menutupi sebagian besar kebutuhan dalam negeri yang dikonsumsi oleh perusahaan pertambangan besar seperti PT Freeport Indonesia, PT Amman Mineral, PT Indonesia Tambang Megah, dan lainnya.

Selama ini, kebutuhan nasional sebagian besar bergantung pada impor dari Australia, Cina, Korea Selatan, dan Filipina.

Dengan adanya TDMB, impor akan berkurang, dan diharapkan ke depannya impor detonator jenis non-elektrik dan elektronik tidak diperlukan lagi.

Bahan baku detonator ini sebagian masih impor dari beberapa negara, di antaranya Australia, India, dan Kanada.

Namun, untuk bahan penunjang, sudah digunakan bahan baku lokal, yang ke depannya akan semakin ditingkatkan kandungan lokalnya.

Presiden Direktur TDMB, Hery Kusnanto, mengharapkan kehadiran TDMB dapat dirasakan sebagai milik bersama dan memberikan berkah bagi semua pihak.

"Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa telah berhasil menyelesaikan pembangunan pabrik ini sehingga kebutuhan akan detonator yang selama ini masih diimpor dapat dipenuhi dari dalam negeri," kata Hery dalam keterangan yang dikutip Kompas.com, Sabtu (15/2/2025)..

Hery juga menambahkan bahwa TDMB mendapat dukungan teknologi dari Orica, perusahaan terkemuka dunia yang berpusat di Melbourne, Australia, sehingga hasil produksi TDMB terjamin kualitasnya.

Country Director Orica untuk Indonesia, James Tiedgen, menegaskan komitmen untuk memajukan industri pertambangan Indonesia melalui kerja sama dengan TDMB.

TDMB memiliki 100 karyawan yang bekerja di pabrik ini, hampir 90 persen berasal dari warga lokal. Selain itu, TDMB juga bekerja sama dengan usaha-usaha lokal dalam hal penyedia jasa seperti catering, gardening, dan transportasi.

Kehadiran TDMB diharapkan dapat mendukung perputaran perekonomian di sekitar lokasi, seperti munculnya rumah-rumah kost, penjualan makanan dan minuman, serta peningkatan kebutuhan angkutan truk di Kaltim.

https://ikn.kompas.com/read/2025/02/15/102107087/pabrik-detonator-resmi-beroperasi-di-kaltim-kurangi-impor-tiga-negara

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com