Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan mengalami deflasi sebesar 0,10 persen (mtm), sementara Kabupaten PPU mengalami deflasi yang lebih dalam, yaitu 0,45 persen (mtm).
Kepala BI Perwakilan Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, salah satu faktor terbesar pendorong deflasi adalah diskon tarif listrik.
"Kebijakan pemerintah yang memberikan diskon 50 persen untuk pelanggan dengan daya hingga 2.200 VA menjadi faktor utama pemicu deflasi ini," ujar Robi, Rabu (5/3/2025).
Faktor lainnya adalah penurunan harga daging ayam ras, tomat, dan beberapa jenis ikan juga berkontribusi pada deflasi.
"Pasokan yang lancar dan peningkatan produksi akibat kondisi cuaca yang mendukung menjadi penyebab utama," tambah Robi.
Meskipun terjadi deflasi secara umum, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, antara lain transportasi udara.
Menurut Robi, permintaan yang meningkat menjelang libur sekolah dan awal Ramadhan menyebabkan kenaikan harga angkutan udara di Balikpapan.
Kemudian kenaikan harga minyak goreng, beras, dan cabai rawit yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kenaikan harga dari distributor dan penurunan pasokan akibat curah hujan tinggi.
Emas perhiasan juga menjadi salah satu komoditas yang menyumbang inflasi di kota Balikpapan.
Adapun komoditas pangan tertentu seperti semangka, ikan layang, ikan tongkol, dan kangkung menjadi penyumbang inflasi di PPU disebabkan peningkatan permintaan sejalan dengan periode Ramadhan.
Tantangan ke depan
Periode Ramadhan dan Idul Fitri diperkirakan akan meningkatkan permintaan, yang dapat memicu inflasi. Curah hujan yang tinggi berisiko mengganggu pasokan pangan, terutama cabai.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan bersama Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus bersinergi untuk menjaga stabilitas harga.
Beberapa langkah yang akan diambil antara lain pelaksanaan high level meeting TPID, penguatan kerja sama antar daerah (KAD) dan peningkatan efektivitas toko penyeimbang.
Kemudian pelaksanaan gelar pangan murah dan operasi pasar, dan gerakan pemanfaatan lahan pekarangan untuk hortikultura.
Program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) juga dilaksanakan untuk menjaga tingkat inflasi daerah pada rentang sasaran inflasi nasional tahun 2025.
Deflasi yang terjadi di Balikpapan dan PPU pada Februari 2025 sebagian besar dipengaruhi oleh stimulus kebijakan pemerintah, terutama terkait tarif listrik.
Namun, potensi peningkatan permintaan dan risiko gangguan pasokan akibat cuaca menjadi tantangan yang perlu diwaspadai.
Dengan sinergi antara berbagai pihak, diharapkan inflasi dapat tetap terkendali dan stabilitas ekonomi daerah dapat terjaga.
https://ikn.kompas.com/read/2025/03/06/132450487/diskon-tarif-listrik-picu-deflasi-di-dua-kawasan-penyangga-ikn