Lantas, bagaimana kondisi ini memengaruhi dinamika ekonomi Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU), terutama di tengah berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN)?
Menurut Kepala BI Perwakilan Balikpapan Robi Ariadi, penurunan BI Rate adalah sinyal positif yang menunjukkan komitmen BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan tetap menjaga inflasi rendah dan stabil di kisaran 2,5 persen ± 1 persen untuk tahun 2025 dan 2026, serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Robi menjelaskan bahwa penurunan suku bunga simpanan (DPK) di perbankan akan terjadi secara bertahap, mengingat struktur simpanan seperti deposito memiliki jangka waktu tertentu. Setelah penyesuaian DPK, suku bunga kredit juga akan ikut menurun.
"Penurunan policy rate BI yang akan diikuti oleh menurunnya suku bunga kredit perbankan tentunya memberikan optimisme kepada pelaku usaha dengan potensi biaya dana yang akan semakin menurun," jelas Robi kepada Kompas.com, Senin (23/6/2025).
Hal ini berlaku untuk seluruh sektor usaha utama di Balikpapan dan PPU, menciptakan efek multiplier yang signifikan.
Balikpapan didominasi oleh Lapang Usaha (LU) Industri Pengolahan, khususnya Industri Minyak dan Gas (Kilang Pertamina), dengan pangsa lebih dari 50 persen. Penurunan biaya dana akan sangat menguntungkan sektor ini.
Sementara PPU didominasi ekonomi berasal dari LU Konstruksi, yang sangat terkait erat dengan aktivitas pembangunan IKN. Dengan biaya dana yang lebih rendah, proyek konstruksi di PPU akan lebih efisien.
Pembangunan proyek IKN yang terus berlanjut pada Triwulan II 2025 juga memberikan daya ungkit signifikan.
Proyek yang diinisiasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) adalah kelanjutan dari proyek multiyears sebelumnya, dengan progres yang terus meningkat seiring pembukaan blokir anggaran.
Yang lebih signifikan, proyek yang diinisiasi oleh Otorita IKN pada akhir Triwulan II-2025 telah memasuki masa konstruksi setelah selesainya pelelangan.
Terjadi penambahan pagu proyek Otorita IKN secara drastis, dari Rp 5,1 triliun pada awal 2025 menjadi Rp 13,2 triliun, atau meningkat sebesar Rp 8,1 triliun.
"Aktivitas pembangunan IKN yang terus berlanjut tentunya akan memberikan efek multiplier kepada lapangan usaha di PPU dan Balikpapan, sehingga akan terjadi peningkatan kinerja ekonomi Kabupaten PPU dan Balikpapan," tegas Robi.
Efek Berganda IKN: Lapangan Kerja, Investasi, dan UMKM Tumbuh Pesat
Robi optimistis, berlanjutnya pembangunan IKN akan menciptakan efek berganda yang signifikan.
Di antaranya penciptaan lapangan kerja, di mana pembangunan dan penyelesaian proyek-proyek IKN akan mendorong bertambahnya serapan tenaga kerja konstruksi di kedua wilayah tersebut.
Peningkatan serapan tenaga kerja ini akan diikuti dengan peningkatan konsumsi untuk pemenuhan kebutuhan pekerja, seperti tempat tinggal, makanan dan minuman, serta kebutuhan lainnya. Ini akan menggerakkan sektor riil lokal.
Kebutuhan bahan/material bangunan, perlengkapan, dan peralatan konstruksi juga akan meningkat drastis, memberikan keuntungan bagi produsen dan distributor lokal.
Berikutnya adalah dengan berlanjutnya konstruksi proyek-proyek IKN akan meningkatkan optimisme pelaku usaha.
"Ini diharapkan menjadi pemicu peningkatan investasi secara umum di PPU dan Balikpapan," ucap Robi.
Selain itu, dampak selanjutnya adalah pertumbuhan UMKM yang dipicu kenaikan konsumsi dan investasi.
Hal ini akan menciptakan peluang besar bagi pertumbuhan UMKM di sektor jasa, perdagangan, dan penyedia kebutuhan dasar.
"Dengan sinergi antara penurunan suku bunga BI dan percepatan proyek IKN, Balikpapan dan PPU diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan, didorong oleh sektor-sektor kunci dan efek multiplier dari pembangunan ibu kota baru," pungkas Robi.
https://ikn.kompas.com/read/2025/06/24/083522687/ikn-masuki-tahap-ii-ekonomi-balikpapan-ppu-siap-ngebut-di-tengah-turunnya-suku