Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Deflasi Balikpapan dan PPU: Harga Turun Berkat Panen Raya, Tapi Waspada Ancaman Gelombang Laut

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kedua wilayah ini kompak mengalami deflasi pada bulan Agustus 2025.

Kota Balikpapan mencatat deflasi 0,73 persen (mtm), sementara Kabupaten PPU mengalami deflasi 0,78 persen (mtm).

Ini adalah kabar positif yang menunjukkan harga kebutuhan pokok dan jasa di kedua daerah tersebut cenderung menurun, jauh lebih rendah dari target inflasi nasional.

Namun, di balik angka deflasi yang menenangkan, ada "perang" pasokan dan harga yang perlu diwaspadai.

Angin Segar Deflasi

Penurunan harga di kedua daerah ini didorong oleh faktor-faktor yang sama melimpahnya pasokan, berikut rinciannya:

1. Transportasi

Di Balikpapan, kelompok ini menjadi penyumbang deflasi terbesar. Tarif angkutan udara turun drastis karena adanya promo diskon, penambahan rute, dan berakhirnya liburan sekolah.

2. Panen Raya

Baik di Balikpapan maupun PPU, harga komoditas pangan seperti tomat dan cabai rawit anjlok.

Hal ini disebabkan oleh masuknya periode panen raya di daerah-daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi, yang membuat pasokan melimpah di tengah permintaan yang stabil.

3. Faktor Lokal

Di Balikpapan, deflasi juga didukung oleh penurunan biaya Sekolah Menengah Pertama (SMP) berkat subsidi pemerintah. Di PPU, harga semangka, sawi hijau, dan kacang panjang juga turun karena panen lokal.

Cuaca dan Gelombang Laut

Meskipun deflasi terjadi, tidak semua harga turun. Sejumlah komoditas justru mengalami kenaikan harga yang bisa menjadi ancaman inflasi pada masa depan.

Cuaca yang tidak menentu di daerah sentra produksi (Jawa dan Sulawesi) memicu kelangkaan bawang merah, ketimun, dan kacang panjang. Tanaman yang rentan penyakit membuat produksi menurun dan harga naik.

Sementara kondisi cuaca buruk di laut menyebabkan pasokan ikan terbatas. Akibatnya, harga ikan layang dan ikan tongkol melonjak karena jumlah nelayan yang melaut lebih sedikit, sementara permintaan tetap kuat.

Sementara kenaikan harga BBM jenis Dexlite dan Pertamina Dex juga memicu kenaikan tarif angkutan laut, yang menambah tekanan inflasi.

Optimisme Konsumen dan Sinergi Pemerintah

Di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif, optimisme konsumen di Balikpapan tetap tinggi.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat 129,8, yang menunjukkan bahwa masyarakat masih sangat percaya pada kondisi ekonomi saat ini dan di masa depan.

Tingginya keyakinan ini bisa menjadi pedang bermata dua; di satu sisi, menggerakkan ekonomi, namun di sisi lain, permintaan yang kuat bisa membuat harga naik jika pasokan tidak stabil.

Menanggapi hal ini, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi memastikan, pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus bersinergi.

"Kami melakukan pemantauan harga rutin, menggelar pasar murah, dan mendorong program ketahanan pangan seperti Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan pemanfaatan lahan pekarangan," ujar Robi, dikutip Kompas.com, Selasa (9/8/2025).

Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan inflasi daerah tetap dalam kisaran target nasional 2,5 persen ± 1 persen.

https://ikn.kompas.com/read/2025/09/09/084232387/deflasi-balikpapan-dan-ppu-harga-turun-berkat-panen-raya-tapi-waspada-ancaman

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com