Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Menimbang Peluang Proyek Ambisius Kereta Lintas 3 Negara Menuju IKN

Proposal yang digulirkan oleh Menteri Transportasi Sarawak dan sebelumnya oleh perusahaan swasta Brunei, BrunEnergy, menawarkan janji konektivitas regional yang tak tertandingi.

Namun, di balik janji tersebut, tersembunyi tantangan geografis, finansial, dan birokrasi yang kompleks di pihak Indonesia.

Pengamat Transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, menyoroti bahwa realisasi proyek ini sangat bergantung pada keberanian pemerintah Indonesia dalam mengatasi hambatan domestik yang selama ini mengganjal pembangunan infrastruktur besar di luar Pulau Jawa.

"Sudah menjadi rahasia publik, pembangunan infrastruktur konektivitas di luar Pulau Jawa penuh dengan tantangan, tidak hanya soal dana, juga faktor geografis, dan kemauan kuat pemerintah," ujar Djoko kepada Kompas.com, Senin (15/12/2025).

Proposal Ambisius dan Urgensi Konektivitas IKN

Inisiatif pembangunan infrastruktur konektivitas berbasis rel ini dipicu oleh kesadaran bahwa Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur (Kaltim), sebagai Ibu Kota baru harus memiliki aksesibilitas regional yang kuat.

Menteri Transportasi Sarawak, YB Dato Sri Lee Kim Shin, mengajukan proposal jaringan rel yang akan menyambungkan wilayahnya ke jantung IKN.

Sebelumnya, perusahaan swasta Brunei, BrunEnergy, juga menunjukkan minat terhadap pembangunan ini, menunjukkan adanya kepentingan bisnis lintas batas yang kuat.

Kedua rencana ini, menurut Djoko, sangat mungkin untuk diintegrasikan, bahkan mendorong pihak Brunei dan Malaysia untuk bertindak sebagai investor utama.

"Mereka memiliki kepentingan nyata dalam membuka akses ke pusat administrasi dan ekonomi baru Indonesia, IKN," cetus Djoko.

Djoko juga menekankan, tantangan terbesar bagi proyek kereta lintas negara ini justru berada di sisi Indonesia, terutama di Kalimantan.

Pertama, adalah jarak yang ekstrem. Dari perbatasan Malaysia (Sarawak) menuju IKN, jarak tempuh diperkirakan lebih dari 1.700 kilometer, dihitung dari titik terjauh. Sementara dari Brunei ke IKN mencapai lebih dari 2.600 kilometer.

Kedua, kondisi geografis sulit, di mana jalur yang akan dilewati bukan jalan biasa. Kawasan tersebut masih didominasi hutan lindung, perbukitan berbatu, dan jalur perbatasan yang sulit seperti di sekitar Malinau, di mana terdapat jurang yang memerlukan biaya konstruksi luar biasa besar.

Djoko membandingkan kesulitan ini dengan proyek rel yang lebih pendek di Indonesia, "Bangun rel kereta di Aceh saja yang cuma 60 kilometer, enggak beres-beres, apalagi yang dari utara Borneo ke IKN yang ribuan kilometer itu".

Ia juga menyoroti lambatnya realisasi kereta api yang menghubungkan Bandara Sepinggan di Balikpapan ke IKN, sebuah jalur yang hanya 60 kilometer dan desainnya sudah matang.

"Hingga kini jalur kereta tersebut belum terbangun. Jika proyek 60 kilometer tertunda hingga 2029, proyek lintas negara yang menempuh ribuan kilometer akan jauh lebih berat," Dungkap Djoko.

Skema Pembiayaan dan Dukungan Pemerintah 

Masalah utama dalam proyek infrastruktur besar di luar Jawa adalah pendanaan. Menurut Djoko, skema pembiayaan melalui Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) seringkali sulit diwujudkan untuk proyek infrastruktur berbasis rel.

Jika Indonesia tidak bergerak, peluang investasi akan terbuka bagi negara lain. Namun, Djoko memberikan peringatan jika ada ketertarikan China yang harus dipertimbangkan matang-matang.

Selain itu, Pemerintah Indonesia juga harus melihat proyek ini dari kacamata long-term investment dan regional development, bukan hanya keuntungan sesaat.

"Jika tujuan utama adalah pengembangan Kalimantan dan meredistribusi populasi dari Jakarta, maka pembangunan infrastruktur rel harus diutamakan," imbuh Djoko. 

Mengenai koordinasi di pihak Indonesia, Djoko menegaskan, lembaga yang paling kompeten untuk memimpin proyek lintas negara ini adalah Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Meskipun IKN adalah tujuan akhir (terminus) dari jaringan rel tersebut, peran Otorita IKN hanya terbatas pada wilayah kota administratif.

"Jaringan rel yang melintasi ribuan kilometer dari perbatasan hingga Kaltim harus berada di bawah koordinasi teknis dan regulasi Kemenhub," tandas Djoko.

Mimpi kereta lintas tiga negara di Borneo merupakan peluang emas bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai regional hub dan merealisasikan pembangunan Kalimantan secara masif.

Namun, agar ambisi ini tidak sekadar wacana, pemerintah harus menunjukkan komitmen politik yang kuat, mengatasi hambatan, dan segera memimpin kolaborasi dengan investor dari Sarawak dan Brunei.

https://ikn.kompas.com/read/2025/12/15/125125087/menimbang-peluang-proyek-ambisius-kereta-lintas-3-negara-menuju-ikn

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar