Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Prabowo Mendarat di Istana Negara IKN, Setelah 15 Bulan Berkuasa

Di bawah cakrawala blue hour yang dramatis, sebuah transisi waktu yang secara simbolis menggambarkan transformasi besar, Presiden Prabowo Subianto menorehkan catatan sejarah baru.

Setelah 15 bulan memegang kemudi kekuasaan sejak 20 Oktober 2024, sang Panglima Tertinggi mendarat pada Senin (12/1/2026), dengan presisi di helipad Istana Negara IKN menggunakan helikopter kepresidenan.

Pendaratan di jantung Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN ini bukan sekadar efisiensi udara; ia adalah pesan visual yang kuat tentang sebuah infrastruktur strategis nasional.

Di kaki tangga helikopter, terlihat jajaran pilar pembangunan nasional telah bersiaga, merepresentasikan sinergi lintas sektoral yang solid.

Tampak menyambut Prabowo, Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, yang memegang mandat otoritas lokal, bersanding dengan Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, serta Menteri Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebagai simbol akselerasi pembangunan kewilayahan yang integratif.

Pilar Kebangsaan dan Sayap Garuda

Dari kejauhan, Istana Negara berdiri kokoh dengan arsitektur monumental yang simetris, didominasi oleh 34 pilar tinggi yang dilapisi marmer white tassos.

Di atas bangunan utama, siluet sayap Garuda yang ikonik pada Istana Presiden membumbung tinggi, seolah memberikan perlindungan simbolis terhadap seluruh kompleks di bawahnya.

Keindahan eksterior ini berpadu dengan ketelitian lanskap seluas 109.932 meter persegi yang dirancang berdasarkan filosofi smart forest city.

Hamparan rumput Zoysia Matrella di Lapangan Upacara tidak hanya menjadi karpet hijau yang dikomentarsi Prabowo, "Tebal ya, rumputnya," bagi prosesi kenegaraan, tetapi juga dirancang memiliki daya dukung beban tinggi untuk alutsista ringan serta sistem drainase canggih guna mencegah genangan saat cuaca ekstrem.

Bangunan ini dirancang sebagai obyek vital nasional yang "tak tertembus", mengikuti standar keamanan kepala negara tertinggi di dunia.

Setiap jengkal struktur telah dipersiapkan untuk menghadapi ancaman asimetris modern.

Dinding beton setebal 20 cm serta kaca jendela antipeluru menjadi elemen arsitektural utama sebagai perisi balistik, untuk memenuhi sistem keamanan yang ketat. Bahkan, sebagian pintu bangunan menggunakan material baja antipeluru.

Lantai lobi dilapisi marmer hijau Juparana yang eksotis, sementara sebagian dinding beton dibalut kayu ukiran hasil karya seniman Jawa dan Bali dengan craftsmanship tinggi.

Sebagian dinding lainnya dilapisi anyaman pisang yang memberikan sentuhan organik di tengah kemewahan marmer, granit, dan labradorite.

Kompleks ini mengintegrasikan manajemen energi otomatis, sistem keamanan biometrik terpusat, dan protokol komunikasi terenkripsi yang mustahil ditembus oleh penyadapan eksternal.

Namun, kedaulatan ini tidak hanya berdiri di atas beton dan baja, melainkan di atas fondasi hukum yang absolut.

Kompleks Istana Kepresidenan di IKN telah mengantongi Sertifikat Hak Pakai (SHP) nomor 11 atas nama Pemerintah Republik Indonesia.

Kepastian hukum ini menjamin bahwa seluruh aktivitas kenegaraan berjalan di atas tanah dengan legalitas yang tidak terbantahkan di jantung Kalimantan.

Kehadiran Presiden Prabowo di IKN ini, setelah melewati 15 bulan masa pemerintahan, menjadi validasi atas kerja keras multistakeholders, mulai dari master planner, arsitek, desainer interior, hingga kontraktor pelaksana, yang bekerja sesuai dengan Detail Engineering Design (DED) yang rigid.

IKN kini bukan lagi sekadar janji di atas kertas, melainkan realitas sebuah kota dunia yang tanggap iklim, tangguh secara fisik, dan sakral secara konstitusional.

https://ikn.kompas.com/read/2026/01/12/211354487/prabowo-mendarat-di-istana-negara-ikn-setelah-15-bulan-berkuasa

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com