Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Cerlang Nusantara Karya Yori Antar Juara Sayembara Desain Pusat Kebudayaan IKN

Hal ini menyusul penetapan Cerlang Nusantara karya Tim Gregorius (Yori) Antar Awal sebagai pemenang Sayembara Desain Bangunan dan Kawasan Pusat Kebudayaan Nusantara IKN yang diumumkan Jumat (30/1/2026).

Cerlang Nusantara dinilai para dewan juri yang dikomandani Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Georgius Budi Yulianto, sebagai karya yang menjanjikan transformasi radikal dari manusia indoor (dalam ruangan) menjadi manusia outdoor yang selaras dengan alam.

Sementara peringkat kedua diraih Simfoni Puspa Segara karya Tim Rachmat Fadhil Afrizal Zamri, dan  
juara ketiga Kisah yang Ditenun oleh Rimba karya Tim Yakob Susanto.

Bentuk bangunan yang prismatik dan asimetris, menyerupai pahatan batu purba dari Nias hingga Sumba, dipilih bukan tanpa alasan. Batu adalah simbol kehadiran peradaban yang abadi.

"Budaya Nusantara tidak boleh dibekukan di masa lalu. Ia harus membimbing kita ke masa depan," terang salah satu dewan juri Wiendu Nuryanti, kepada Kompas.com.

Kekuatan desain ini terletak pada keberhasilannya mentransformasikan nilai tradisi menjadi kemajuan kuantum, tanpa kehilangan pijakan pada akar arsitektur lokal.

Filosofi Pohon Kehidupan dan Tanpa Sekat

Yori menjelaskan, Cerlang Nusantara ini dirancang sebagai bagian dari poros hijau IKN yang sangat kuat, menyambung dari Istana Presiden hingga Plaza Bhineka.

Ada tiga unsur utama yang menjadi nyawa kawasan ini Batu (Hitam/Cokelat) yang mewakili peradaban Megalitikum sebagai bangunan utama.

Kemudian Pohon Kehidupan (Infrastruktur) sebagai simbol kebijakan dan kearifan lokal Kalimantan yang mengikat seluruh fungsi bangunan.

"Dan Hutan (Hijau) yang merupakan narasi alam yang menyelimuti seluruh kawasan," cetus Yori.

Menurut anggota dewan juri lainnya, Wicaksono Sarosa, salah satu keunggulan mutlak Cerlang Nusantara di mata dewan juri adalah hilangnya batasan (deliniasi) antara ruang dalam dan ruang luar.

Konsep ini sangat relevan dengan ekosistem IKN yang tropis, di mana kegiatan kebudayaan tidak lagi terkurung dalam gedung, melainkan cair di bawah naungan pohon-pohon kehidupan.

"Bahkan, pohon-pohon eksisting di lokasi, seperti pohon Ulin, tidak hanya dipertahankan, tetapi "dimuliakan" sebagai bagian dari desain," tambah Wicaksono.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyebutkan bahwa karena hak cipta desain kini milik Otorita IKN, ada peluang untuk menggabungkan keunggulan dari juara pertama, juara kedua Simfoni Puspa Segara, dan ketiga Kisah yang Ditenun oleh Rimba.

Basuki menjelaskan, target pembangunan fisik Pusat Kebudayaan Nusantara ini paling cepat dimulai pada tahun 2027.

"Mungkin yang akan dibangun terlebih dahulu adalah concert hall dan fasilitas olahraga dari total rnam bangunan utama," terang Basuki.

Ada pun skema pembiayaan akan dikelompokkan berdasarkan prioritas, mulai dari dana APBN, kerja sama dengan swasta, hingga BUMN.

Data Pemenang Sayembara Desain Pusat Kebudayaan IKN:

  • Juara I: Cerlang Nusantara, memperoleh Rp 750.000.000
  • Juara II: imfoni Puspa Segara, memperoleh Rp 250.000.000
  • Juara III: Kisah yang Ditenun oleh Rimba, memperoleh Rp 150.000.000

https://ikn.kompas.com/read/2026/01/30/120755287/cerlang-nusantara-karya-yori-antar-juara-sayembara-desain-pusat-kebudayaan-ikn

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com