Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jet Pribadi Makin Sering Mendarat di Bandara Internasional Nusantara IKN

Kompas.com, 8 Mei 2026, 10:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Langit di atas Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, kini tak lagi sepi.

Deru mesin pesawat jet pribadi (private jet) kian intens menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Nusantara pasca kunjungan Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2026.

Mereka membawa para investor dalam dan luar negeri, serta para pejabat tinggi negara yang ingin melihat kemajuan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Fenomena ini bukan sekadar aktivitas aviasi biasa, melainkan indikator kuat bahwa urat nadi logistik dan mobilitas IKN, ini telah berfungsi secara faktual.

Baca juga: Kapan Bandara Internasional Nusantara IKN Resmi Dibuka untuk Umum?

Transformasi infrastruktur udara yang awalnya dirancang sebagai bandara VVIP menjadi bandara internasional merupakan langkah strategis untuk menjawab tuntutan investasi global.

Kendati status perubahan menjadi bandara umum, belum secara resmi ditandatangani Presiden Prabowo Subianto, intensitas pendaratan jet pribadi belakangan ini menjadi sinyalmen positif bagi para investor mengenai kesiapan operasional gerbang udara utama IKN tersebut.

Ruang meeting VVIP Bandara Internasional Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN) KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Ruang meeting VVIP Bandara Internasional Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Bandara dengan Peran Strategis

Pembangunan bandara ini berlandaskan pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 31 Tahun 2023 tentang Percepatan Pembangunan dan Pengoperasian Bandar Udara VVIP di Ibu Kota Nusantara.

Regulasi ini menjadi payung hukum utama yang mengintegrasikan koordinasi antara Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum (sebelumnya PUPR), hingga Otorita IKN.

Baca juga: Ujung Penantian Subarianto, Menang Lawan Mafia Lewat Reforma Agraria

Statusnya yang kini bergeser menjadi bandara internasional bertujuan untuk memastikan keberlanjutan ekonomi (economic sustainability), di mana bandara tidak hanya melayani tamu negara, tetapi juga mobilitas bisnis dan logistik internasional yang menjadi tulang punggung pertumbuhan kawasan.

Secara teknis, Bandara Internasional Nusantara yang menempati area HPL Badan Bank Tanah seluas 621 hektar, dibangun dengan spesifikasi kelas dunia untuk mengakomodasi trafik pesawat berbadan lebar.

Di sisi udara (airside), bandara ini memiliki panjang landasan pacu 3.000 meter. Dimensi ini lebih panjang ketimbang Bandara Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (SAMS) atau pun Bandara Aji Pangeran Temenggung Pranoto.

Baca juga: Skema Baru Reforma Agraria Hak Pakai Resmi Dimulai di Penyangga IKN

Sementara lebar landasan pacu dirancang 45 meter dengan kapasitas apron mampu menampung berbagai jenis pesawat, mulai dari jet korporat hingga pesawat komersial berbadan lebar (wide body) secara simultan macam seri Boeing 777 dan Airbus A380.

Sedangkan sistem taxiway dibuat presisi untuk menjamin efisiensi pergerakan pesawat dari landasan ke terminal.

Plt Kepala Bandara Internasional Nusantara, Imam AlwanKOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Plt Kepala Bandara Internasional Nusantara, Imam Alwan
Ada pun sisi darat (landside) dan terminal didesain dengan memadukan kecanggihan teknologi dan kenyamanan premium.

Fasilitas eksklusif untuk tamu negara dan diplomatik dengan sistem keamanan tingkat tinggi juga tersedia.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau