Di bawah kubah berbentuk sorban yang kini berdiri kokoh sebagai tengaran baru peradaban, Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai bernafas.
Untuk kali perdana, ribuan pasang kaki melangkah masuk, memadati saf-saf yang masih baru, menyambut 1 Ramadhan 1447 Hijriah dengan sujud yang khidmat.
Pendar lampu LED modern yang menyinari jemaah berpakaian warna warni, menyatu dalam sebuah ruang yang kini menjadi titik temu spiritual bagi masyarakat yang tengah menata hidup di ibu kota masa depan Indonesia.
Di atas mimbar, suasana hening menyergap saat Dai dari Kementerian Agama Kalimantan Timur, Ustad Irfan Rosady, mulai menyampaikan tausiyahnya.
“Perbaikilah niat kita. Karena bila salah kita dalam menjalankan kehidupan dan beribadah, maka bersiaplah kita terjerumus dalam lembah penghinaan. Mari kita mantapkan dan luruskan niat dalam menjalani Ramadhan ini,” tegasnya.
Lensa kamera menangkap wajah-wajah penuh harap, pekerja konstruksi yang jauh dari keluarga, ASN yang baru berpindah tugas, hingga warga lokal yang kini menyaksikan tanah leluhurnya bertransformasi. Semuanya tertunduk dalam zikir yang sama.
Baginya, kemegahan ini mulanya terasa seperti mimpi di tengah rimbunnya pohon ekaliptus yang mendominasi pandangan.
Kenyamanan yang dirasakan Shakira adalah bukti bahwa IKN mulai berhasil menjahit rasa memiliki antara masyarakat asli dan pendatang melalui fasilitas publik yang inklusif.
Foto-foto tarawih perdana ini bercerita banyak hal. Ada potret barisan alas kaki yang tertata rapi di pelataran, bayangan jemaah yang terpantul di lantai marmer yang mengilap, hingga momen ramah tamah antarpenduduk selepas salam terakhir.
Masjid Negara IKN kini resmi menjadi prasasti toleransi dan kebersamaan. Ramadan tahun ini menjadi saksi sejarah bagaimana IKN mulai "mengisi" jiwanya.
https://ikn.kompas.com/read/2026/02/18/233912187/sejarah-terukir-ribuan-jamaah-tarawih-perdana-di-masjid-negara-ikn