Di sana, jemari Dyah Setyowati Bagyoastuti tidak sekadar menari di atas mori, ia sedang merajut kisah keberanian.
Bagi Dyah, setiap coretan canting adalah manifestasi dari kegigihan menempuh pengobatan panjang sebagai penyintas kanker payudara selama lebih dari satu dekade.
KurniaWP Batik lahir dari rahim pengharapan, sebuah karsa yang mengubah rasa sakit menjadi keindahan visual yang memikat.
“KurniaWP Batik hadir sebagai sarana healing dalam proses pengobatan yang panjang. Setiap helai kain yang terlahir adalah wujud kekuatan dan kegigihan. Coretan garisnya adalah simbol pengharapan karena kasih karunia-Nya,” ungkap Dyah dengan nada yang tenang namun berwibawa kepada Kompas.com, Selasa (29/4/2026).
Stilasi Budaya dan Kontemporeritas Borneo
Dyah tidak membiarkan pakem tradisional mati dalam kekakuan. Ia melakukan penelusuran mendalam terhadap motif busana adat, manik-manik, hingga ukiran kayu khas Kalimantan untuk menemukan intisari filosofinya.
Dengan teknik stilasi, Dyah memberikan sentuhan kontemporer pada motif asli tanpa mencerabut akarnya.
Hasil alam Tanah Borneo diceritakan ulang melalui tata letak yang lebih dinamis dan ukuran motif yang disesuaikan agar lebih relevan dengan selera pasar modern.
Konsistensi ini juga terlihat pada keberaniannya bermain di ranah warna. Dyah memadukan teknik batik Jawa dengan ruh Borneo, menghasilkan palet warna pastel dan alam yang mampu menembus selera global.
Baginya, batik bukan sekadar komoditas, melainkan identitas yang harus diproteksi melalui legalitas hak cipta agar orisinalitas karya tetap terjaga dari praktik plagiarisme yang kerap menghantui industri kreatif.
Kendati demikian, Dyah tidak pelit berbagi. Sebaliknya, perempuan berkacamata ini tak lelah berupaya memberdayakan perempuan dan mengedukasi masyarakat.
Dyah dengan sabar menanamkan pemahaman bahwa jati diri batik terletak pada prosesnya, bukan sekadar motifnya.
Ia aktif memberikan pelatihan mulai dari tingkat kanak-kanak hingga sekolah menengah, menularkan filosofi bahwa ketekunan dalam membatik adalah cermin dari keteguhan hidup.
Sisi kemanusiaan Dyah juga bersimbiosis dengan kesadaran ekologis. Ia menerapkan teknik colet untuk meminimalkan residu pewarna sintetis dan mengolah limbah cucian melalui sistem pengendapan bertahap hingga aman bagi saluran air.
"Saat ini kami bekerja sama dengan komunitas pengrajin batik yang telah melakukan proses pengolahan limbah pewarna sintetis dengan pengendapan hasil cucian secara bertahap sehingga ketika dibuang ke saluran air, bahan tersebut sudah aman," ungkap Dyah.
Dyah memastikan, langkah-langkah berkelanjutan ini tidak mengubah hasil, dan tetap sesuai selera pasar.
Produksi kain juga disesuaikan dengan jumlah pemakaian pewarna sehingga sangat minimal membuang sisa pewarna.
"Untuk beberapa pewarna, biasanya kami akan menyimpannya jika masih ada sisa sehingga bisa dimanfaatkan kembali pada keesokan harinya," ucap Dyah.
Variasi Produk
Saat ini, KurniaWP Batik mulai memvariasikan produk batik dengan pewarna alam, namun masih terbatas pada batik tulis.
Hal ini karena keterbatasan bahan pewarna dan tidak stabilnya kandungan tanin pada tanaman tersebut sehingga warna yang dihasilkan pun tidak sama.
KurniaWP Batik juga masih menggodok untuk penggunaan pada batik cap dalam rangka menekan harga jual dan peduli lingkungan.
"Hal ini sudah kami lakukan sejak pertama KurniaWP Batik berdiri yaitu memberikan sentuhan warna alam ataupun pastel sehingga lebih bisa diterima pasar global dalam setiap seri yang dibuat," cetus Dyah.
Sebagian produknya kini mulai beralih menggunakan pewarna alam pada batik tulis, meski tantangan stabilitas kandungan tanin tanaman lokal masih menjadi pergulatan teknis yang terus ia dalami.
Adapun tantangan di daerah Kalimantan sangat tinggi ketika warna yang dihasilkan kurang terang, sehingga Dyah harus berjuang untuk mencari pasar di luar Kalimantan.
Dia juga bertarung dengan batik di Jawa yang cenderung lebih murah karena sumber daya manusia (SDM) yang melimpah dengan upah lebih murah dengan skill yang jauh di atas rata rata di Kalimantan.
Untuk itu, Dyah rajin memperhatikan jenis motif yang berkembang dari tahun ke tahun melalui trend for casting untuk dunia fashion baik dari segi motif, warna maupin bahan dasar yang dipakai.
Saat ini, KurniaWP Batik sudah mulai memvariasikan penggunaan bahan kain yang tidak hanya prima atau primisima tapi tetap bahan alam seperti rayon santung, katun paris ataupun sutra dan paduan serat alam lainnya.
Prinsip zero waste diterapkan melalui produksi busana siap pakai atau Ready To Wear (RTW) yang tidak meninggalkan beban bagi bumi.
Sisa-sisa kain perca atau batik yang rusak disulap menjadi aksesori estetik seperti bros, kalung, dan tas oleh tangan-tangan terampil ibu rumah tangga dan rekan kriya di sekitarnya.
Pemberdayaan ini bukan belaka soal ekonomi, melainkan tentang membangun ekosistem perempuan yang mandiri, berdaya, sekaligus berbudaya.
Meski omzet tahunannya masih merangkak di angka Rp 200 juta, Dyah memandangnya sebagai progres yang nyata setelah mendapatkan pendampingan intensif untuk merapikan laporan keuangan dan strategi pemasaran.
Dukungan Strategis Bank Indonesia
Langkah Dyah dan para perajin lokal Balikpapan berbuah manis. Ia mendapatkan uluran bantuan melalui pembinaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, melihat potensi besar batik Kalimantan untuk lepas landas dari stigma produk lokal yang sering kali kehilangan identitasnya.
"Ini adalah langkah strategis untuk menempatkan batik Balikpapan sebagai produk premium yang memiliki nilai seni, filosofi, dan daya saing global," ujar Robi.
Melalui program pelatihan komprehensif di kota-kota sentra batik, seperti Solo, para perajin diharapkan mampu mengadopsi teknologi modern dan memperkuat narasi (storytelling) di balik setiap helai wastra Nusantara untuk menjangkau pasar anak muda dan internasional.
Terlebih penciptaan ruang dengan kelengkapan ekosistem pemasaran serta pembayaran secara digital atau digital marketing dan QRIS pada payment gateway yang digunakan, peluang untuk mendapatkan pangsa, dan pertumbuhan pendapatan akan semakin nyata di depan mata.
Target Robi adalah membawa karya-karya inovatif dari Balikpapan untuk bersinar di panggung Karya Kreatif Indonesia (KKI) Nasional 2026.
Dan bagi Dyah, upaya BI Balikpapan akan diterapkan semaksimal mungkin melalui target pertumbuhan omzet tahunan yang terukur, dengan angka tiga digit atau dalam hitungan lebih dari Rp 1 miliar dalam lima tahun ke depan.
"Perjalanan ini adalah pelangi yang disediakan-Nya bagi mereka yang terus berjuang," imbuhnya.
Batik Balikpapan kini bukan lagi semata wastra daerah, melainkan simbol kegigihan seorang perempuan yang memilih untuk tetap rendah hati dan menjadi berkat bagi sesama melalui goresan malam yang abadi.
https://ikn.kompas.com/read/2026/04/30/160501487/goresan-malam-sang-penyintas-kanker-menduniakan-batik-kalimantan