Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Digembleng Kopassus, 555 Anak Muda Resmi Jadi Mesin Birokrasi IKN

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono melantik 555 personel baru di Taman Kusuma Bangsa, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Senin (08/06/2026). Seluruh aparatur baru ini berada di rentang usia produktif 20 hingga 35 tahun.

Pelantikan ini menandai peralihan krusial bagi Otorita IKN. Spasalnya, selama ini, operasional lembaga otorita banyak bertumpu pada tenaga perbantuan dari kementerian atau lembaga lain.

Kehadiran 555 tenaga muda ini menjadi pondasi awal pembentukan korps birokrasi internal yang didesain khusus untuk mengelola ibu kota baru.

Dari total pegawai yang diambil sumpahnya, Basuki melantik 494 pegawai dalam pengangkatan pertama ke Jabatan Fungsional, serta 6 pegawai untuk kenaikan jenjang dan perpindahan jabatan fungsional.

Tuntutan Profesionalisme di Luar Sumpah Formal

Dalam arahannya, Basuki menekankan, tantangan terbesar di IKN saat ini bukan lagi sekadar menyelesaikan proyek fisik bangunan, melainkan menghidupkan ekosistem kota dan mengelola interaksi sosial masyarakat yang akan datang.

Basuki pun menginstruksikan para PNS muda ini untuk mengadopsi empat nilai kerja utama: kompetensi teknis, integritas yang melahirkan keberanian, loyalitas profesional, dan kemampuan inovasi.

"Loyal pada profesinya, bukan loyal pada individu pimpinan. Anda harus mempunyai professional loyalty," tegas," Basuki.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal, birokrasi IKN dituntut bergerak dinamis dan lepas dari budaya patronase (asal bapak senang) yang kerap menghambat efisiensi birokrasi konvensional.

Integritas dan kepatuhan pada aturan main dinilai menjadi instrumen utama agar tata kelola pemerintahan di IKN bersih sejak awal.

Gemblengan Militer dan Simbolisasi Lingkungan

Sebelum resmi menyandang status PNS, anak-anak muda dari berbagai daerah ini telah melewati fase indoktrinasi fisik dan mental yang ketat.

Otorita IKN menggandeng Grup 4 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) untuk melatih kedisiplinan, kekompakan, dan ketahanan mental para peserta.

Basuki mengatakan, pendekatan ini menunjukkan, otorita membutuhkan aparatur yang siap beradaptasi dengan ritme kerja cepat dan tekanan tinggi di lapangan, mengingat target-target pemindahan ibu kota yang ketat.

Sebagai penutup rangkaian seremonial, para PNS baru ini melakukan penanaman pohon di kawasan Taman Kusuma Bangsa.

Aktivitas ini menjadi penegasan konsep sustainable forest city yang selama ini dikampanyekan oleh pemerintah untuk pembangunan IKN.

https://ikn.kompas.com/read/2026/06/09/070123487/digembleng-kopassus-555-anak-muda-resmi-jadi-mesin-birokrasi-ikn

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com