Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Istana Garuda dan Istana Negara dengan sumbu-sumbu penting di Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dianggap sejumlah kalangan tidak simetris secara visual, menjadi kontroversi yang terus bergulir diperbincangkan.
Beragam argumentasi dikemukakan masyarakat sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.
Namun dari sekian banyak pandangan, perspektif feng shui tentang Istana Garuda, Istana Negara, dan sumbu-sumbu penting lainnya di IKN tak banyak yang mengulas.
Baca juga: Memahami Polemik Istana Garuda di IKN, Sebuah Karya Ilegal? (I)
Kompas.com secara eksklusif mendapatkan point of view dari Dosen Matakuliah Fengshui dan Arsitektur Universitas Tarumanagara Sidhi Wiguna Teh terkait elemen-elemen penting dan monumental dari pembangunan IKN tersebut.
Key Performance Indicator (KIP) Ibu Kota Nusantara (IKN)Untuk diketahui, Putrajaya mendapat supervisi dari Grand Master Yap atas perintah Mahathir Mohamad.
Baca juga: Jokowi Bilang Akan Terus Kawal IKN Meskipun Sudah Tak Jadi Presiden
Oleh karena itu, ketika Sidhi dan tim mengikuti sayembara Masterplan atau Gagasan Desain IKN pada tahun 2019 dengan nomor peserta 0654D, mengusulkan penerapan feng shui dalam penataannya terutama perletakan istana dan sumbu-sumbu penting IKN.
Menurut Sidhi, rencana pembangunan IKN menarik untuk diikuti dan tentu akan lebih baik lagi apabila dapat turut berpartisipasi.
Konstelasi Ibu Kota Nusantara (IKN)Baca juga: Anggaran Pembebasan 2.086 Hektar Lahan IKN Disebut Aman
Kedelapan prinsip tersebut adalah didesain sesuai kondisi alam, mengakomodasi prinsip Bhinneka Tunggal Ika, terhubung, aktif dan mudah diakses, rendah emisi karbon, sirkuler dan tangguh, aman dan terjangkau, nyaman dan efisiensi melalui teknologi, serta membawa peluang ekonomi untuk semua.
"Ini merupakan acuan baru dalam penataan sebuah kota," ujar Sidhi, Selasa (20/8/2024).
Kawasan IKN yang mencakup area di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mendapat bentuk topografi berbukit.
Konsep Feng ShuiKondisi ini sangat ideal menurut kaidah feng shui karena memenuhi kriteria bersandar gunung, memandang laut.
Komposisi kontur yang terbentuk baik pada sisi kiri maupun sisi kanan dari sumbu Barat Laut dan Tenggara ini memenuhi kaidah naga hijau dan macan putih yang bagus serta memberi efek positif bagi pertumbuhan ekonomi negara dan kharisma Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di mata dunia.
Baca juga: Satgas Percepatan Investasi IKN Dibentuk, Kementerian ATR/BPN Siapkan Ini
Istana Garuda dan Istana Negara yang menuai kontroversi, berada di dalam Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).
Keduanya bisa diletakkan sedemikian rupa agar apabila ditarik sumbu mengarah ke tengah mulut Teluk Balikpapan, mendapatkan sumbu Barat Laut-Tenggara.
Masterplan Ibu Kota Nusantara (IKN)Posisi ini memberikan efek bagus untuk mendapat dukungan dari sandaran bukit yang ada, sekaligus memberikan efek positif untuk peningkatan kualitas hidup manusia.
"Selain itu, juga berdampak positif pada pembangunan perekonomi negara karena menghadap laut yang menurut kaidah feng shui, laut atau air merupakan elemen kekayaan," urai Sidhi.
Baca juga: Investor IKN Urus HGB 11 Hari Langsung Jadi, Kok Bisa?
Sementara mengenai isu terkait perancang atau arsitek Istana Garuda dan Istana Negara, Sidhi berpendapat perlu disikapi dengan bijak.
Faktanya ada banyak tokoh terkenal yang menjadi panutan para arsitek saat ini, tidak memiliki latar belakang pendidikan arsitektur.
Sebut saja Frank Llyod Wright yang hanya satu tahun kuliah di jurusan teknik sipil di Universitas of Wisconsin kemudian drop out.
Warga berjalan dan berfoto di Taman Kusuma Bangsa, Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Minggu (18/8/2024). Taman Kusuma Bangsa menjadi lokasi wisata bagi masyarakat sekitar setelah diresmikan pada Senin (12/8/2024).
Di sisi lain, banyak arsitek yang menggeluti bidang lain seperti menjadi pemilik hotel, pertambangan atau restoran, tidak ada satupun tokoh dari kalangan kulinari atau hospitaliti yang protes.
"Saya kira kita harus fair dan menerima dengan lapang dada dan justru menjadi ruang introspeksi bagi arsitek ketika ada seorang maestro patung Nyoman Nuarta yang terpilih menjadi perancang Istana Garuda dan Istana Negara IKN," tegas Sidhi.
Baca juga: Cerita dari HUT RI di IKN, Trem Otonom Terpadu Diserbu Warga
Adapun mengenai bentuk istana yang menjadi perbincangan, dia mengatakan, sangat subyektif dan tergantung dari cara bagaimana melihat dan menilai sebuah karya.
Menurutnya, akan selalu ada pro dan kontra sebagaimana teori yin and yang, hitam-putih, siang-malam, atau langit-bumi.
"Sebagai warganegara, saya selalu optimistis dan mendoakan yang terbaik untuk NKRI dengan Ibu kota baru dan pemerintahan dalam menuju Indonesia Emas 2045," tuntas Sidhi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang